Saya tersenyum sendiri melihat beberapa pertanyaan terbaru yang diluncurkan oleh beberapa kawan di room global, disitu semua orang bebas mengeluarkan apapun yang menjadi unek-unek mereka, tanpa malu-malu. Bebas bertanya apapun, dan yang lain pun akan menjawab sesuai ketahuan mereka tanpa menganggap orang yang bertanya itu lebih bodoh dari yang menjawab. Inilah yang membuat saya terkadang asyik mengikuti aktivitas mereka, karena tidak terdapat kesenjangan sosial dan lain sebagainya. Semuanya ingin berbagi ilmu. Ya. Kata-kata yang paling tepat adalah berbagi dan mencari ilmu.
Tapi saya agak terkejut ketika ingin ikut menjawab sebuah pertanyaan. Saya tidak memperhatikan bahwa kategori pertanyaan itu datang dari room agama dan kepercayaan, karena sang penanya hanya menulis subjek pertanyaannya dengan kalimat ini, ”adakah yang tau mengapa begini?”. Saya semakin penasaran, dan ketika saya klik pertanyaan itu, saya dapati si penanya mendeskripsikan secara singkat maksud dari pertanyaannya. Ternyata dia bertanya tentang, ”mengapa di room agama dan kepercayaan banyak sekali si penanya ataupun si penjawab melontarkan pertanyaan dan jawabannya dengan menggunakan huruf besar?” Ketika itu saya belum terlalu mengerti dengan maksud pertanyaannya. Sempat juga terlintas di benak saya, ”mungkin saja mereka sedang iseng, memangnya berdosa bila menulis dengan huruf besar semua?” hehehe...
Kemudian saya melakukan survey lebih jauh ke dalam room agama dan kepercayaan tadi. Dan ternyata…. Eng ing eng… Benar! Banyak sekali pertanyaan dan jawaban ditulis dengan menggunakan huruf besar dan kata-kata yang sangat amat tidak sopan atau bahkan melecehkan tentang agama dan kepercayaan itu. Sekarang saya baru benar-benar paham dengan pertanyaan di atas tadi. Ternyata itu merupakan pertanyaan yang berisi sindiran secara halus alias sinisme -duh indri... lemot bgt sih :( telat bgt pahamnya :D-.
Sekarang kita kembali kepada pertanyaan tadi. Menurut teman-teman semua, apa pernyataan yang sesuai untuk menjawab pertanyaan tadi? Kalo saya pribadi hanya menjawabnya dengan simple. Yaitu karena orang-orang tersebut diatas berbicara tidak dengan hati nurani, dan telah dikuasai oleh hawa nafsu. Padahal semestinya kita lah yang harus mampu mengendalikan hawa nafsu, bukan malah sebaliknya -hawa nafsu yang mengendalikan kita-. Dan yang bisa mengendalikan hawa nafsu hanyalah keimanan seseorang. Memang sangat sulit sekali bila berbicara tentang pengendalian ini. Semakin tinggi tingkatan keimanan seseorang, maka akan semakin kuat dia menahan arus keras hawa nafsu yang berusaha membelokkan keimanannya. Lalu bagaimana dengan kita sekarang? Mari kita coba tanyakan kembali pada diri kita.
Setiap orang pasti memiliki sisi baik yang mendorong dirinya untuk berbuat kebajikan. Dan begitu juga sebaliknya. Ketika akal sehat telah mampu mengendalikan nafsu, maka ia akan cenderung berbuat kebaikan, namun bila nafsu yang telah memperbudak akal sehat, maka ia akan cenderung berbuat kemunkaran bahkan akan terus mengulanginya. Tampak dari ini semua, betapa pentingnya pengendalian diri itu.
Tentang perdebatan antar umat beragama mungkin telah menjadi persoalan yang umum dan sering terjadi. Sejauh yang saya lihat disitu hanyalah “perang dingin” (saling mencaci dan memperolok), mudah-mudahan saja tidak sampe “berdarah-darah”, hehehe… Tapi sebenarnya mengapa harus saling mengejek? Bukankah “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”?
Nah sobat, menurut kalian gimana? Kalo ada pendapat lain, tolong dituliskan dibawah ya. Jazakumullahu khoiron…
