Sabtu, 30 Juli 2011
Majelis Ilmu
Diposting oleh
yuliani indri lestari
di
21.01
Bismillah…
Dari beberapa majelis ilmu yang diikuti dalam beberapa hari belakangan ini, subhanallah… banyak sekali pelajaran berharga dan ilmu yang diajarkan. Berikut, saya ingin sharing sedikit, apa yang berhasil terekam dalam memori saya, yang ingin sekali saya teruskan dan sebar luaskan ilmunya kepada teman-teman semua. Mari semua, kita duduk sejenak di majelis ilmu ini J
Perintah Allah itu meliputi dua hal. Ada yang sesuai dengan hawa nafsu manusia, dan ada yang tidak sesuai dengan hawa nafsu manusia. Yang pertama, yang sesuai dengan hawa nafsu manusia contohnya tidur. Allah berfirman dalam Q.S. An Nabaa : 9, “dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat”. Tidur itu sesuai dengan hawa nafsu manusia. Istilahnya, kita tidak diperintah untuk tidur pun tetap saja kita tidur. Orang kafir pun demikian. Mereka juga tidur. Jadi, tidak ada keistimewaan dalam tidur ini. Ringan saja menjalankannya. Bahkan orang kafir pun bisa. Jadi bisa disimpulkan bahwa perintah yang sesuai dengan hawa nafsu manusia itu tidak ada kemuliannya. “Adakah orang yang bertambah kemuliaan/keimanan/ketakwaannya hanya dengan tidur?” ucap sang ustadzah waktu itu.
Yang kedua, perintah Allah yang bertentangan atau tidak sesuai dengan hawa nafsu manusia. Contohnya, Allah memerintahkan manusia untuk bangun pada sebagian malam untuk beribadah kepadaNya. Ini jelas bertentangan dengan hawa nafsu manusia yang inginnya tidur pulas sepanjang malam. Maka dari itu, terasa berat sekali untuk melaksanakan perintah yang satu ini, apalagi untuk istiqomah di dalamnya. Orang kafir tidak akan bisa menjalankan perintah yang satu ini. Hanya orang-orang beriman lah yang mampu menekan hawa nafsunya, untuk mampu menjalankan perintah Allah ini. Dan tentunya, ada kemuliaan di dalamnya. Banyak sekali dalil yang menjelaskan tentang fadhilah qiyamullail. Allah membalas penat dan lelahnya mukmin yang tetap menguatkan diri untuk bangun di sebagian malam itu untuk berdibadah kepada Allah, dengan kemuliaan yang luar biasa.
Sholat. Bila kita teliti lebih cermat lagi, sebetulnya sholat itu bukanlah hanya suatu kewajiban, yang membuat kita kadang masih berat untuk menjalankannya, karena merasa diharuskan, jadi tidak ada keikhlasan, merasa dipaksakan, hanya takut akan dosa bila tidak mengerjakan, alhasil sholat express pun tidak masalah asalkan 5x dalam sehari sudah ‘absen’. Astaghfirulloh…
Sholat itu sebetulnya adalah kebutuhan kita. Kita yang perlu untuk sholat. Bukan Allah yang perlu dengan sholat kita. Kemuliaan dan ke-Maha Kuasa-an Allah tidak akan berkurang sedikitpun dengan tidak sholatnya kita. Bahkan sebaliknya, kehinaan kita yang akan semakin bertambah apabila kita tidak sholat. Kita yang memerlukan sholat sebagai sarana ‘bertemu’ dengan Allah, Robb kita, tempat kita menyembah dan memohon pertolongan. Kita yang memerlukan sholat sebagai makanan dan suplemen rohani (ruh) kita. Dan ketahuilah, Allah itu ‘bukan’ bersama orang yang sholat, tapi Allah bersama orang-orang yang sabar. Karena, output yang diharapkan dari sholat yang setiap hari kita lakukan adalah kesabaran. Kesabaran yang luar biasa. Yang akan tercermin dan teraplikasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Jadi, bila sudah sholat tapi masih suka marah-marah, masih suka maksiat, apa yang terjadi dengan sholat kita? Berarti masih banyak yang harus dikoreksi dalam sholat kita.
Contoh lain, dalil tentang puasa (Q.S. Al Baqarah : 183). Allah mewajibkan kita untuk berpuasa (di bulan ramadhan), agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Allah ‘bukan’ bersama orang yang berpuasa, tapi Allah itu bersama orang-orang yang bertakwa (output yang diharapkan dari ibadah puasa tadi).
Output dari seluruh ibadah yang kita lakukan disebut sebagai sifat iman. Yaitu sabar, takwa, dan tawakkal. Jadi, Allah itu bersama orang-orang yang bisa ‘menghasilkan’ sifat iman tadi, dari ibadah-ibadah yang dilakukannya. Dan Allah tidak bersama orang-orang yang secara lahiriah terlihat rajin sekali beribadah, namun sebetulnya sia-sia, karena ibadahnya tidak menghasilkan sifat iman, ibadahnya tidak merubah dirinya untuk menjadi lebih baik, ibadahnya hanya merupakan ‘simbol’ saja.
Terkait dengan bulan ramadhan yang insya Allah sebentar lagi akan kita temui, apakah teman pernah merasakan semangat beribadah di bulan ramadhan yang lebih kuat daripada di bulan-bulan lainnya? Jika ya, tahukah teman apakah penyebabnya? Suasana? Ya, suasana termasuk salah satu penyebabnya. Tapi itu hanya faktor pendukung yang kecil saja, karena suasana di bulan ramadhan memang sudah terbentuk seperti itu. Faktor utamanya adalah, karena pada bulan ramadhan itu kita sedang berpuasa, menahan haus dan lapar, menekan hawa nafsu. Nah kawan, ketika kita lapar, jasmani kita lapar, hawa nafsu kita itu lemah. Tetapi, ketika jasmani/fisik kita kenyang, kita selalu makan banyak bahkan berlebihan, hawa nafsu kita semakin kuat, bahkan menjadi raja di dalam diri kita. Hasilnya, hawa nafsu yang memerintah, apa-apa berdasarkan keinginan nafsu, apa-apa menurutkan kehendak nafsu. Astaghfirulloh… Na’udzubillahi min dzalik. Berhati-hatilah kawan dengan kenyangmu!!!
Selama ini kita sangat sering terlena. Kita selalu mencukupi kebutuhan jasmani kita saja. Kita makan teratur, memakai baju yang bagus-bagus, memakai kendaraan mewah, dll. Ketika kulit kita terluka sedikit, bukan main khawatirnya kita, kita segera ke dokter, takut luka kita semakin membesar dan parah. Tapi pernahkah kita mengkhawatirkan bagaimana ruh kita terluka? Bagaimana ruh kita kelaparan dan kehausan? Bagaimana ruh kita ‘telanjang’? Kebutuhan jasmani selalu kita cukupi, lalu bagaimana dengan kebutuhan rohani kita? Kita saja yang tidak mendengar, bahwa sebetulnya ruh kita menjerit karena ‘kelaparan dan kehausan’. Roh kita menjerit karena kita lebih sibuk pergi shopping daripada pergi ke majelis ilmu. Ruh kita menjerit karena kita lebih suka berkenyang-kenyang daripada berpuasa.
Menyinggung tentang ini, saya jadi teringat suatu hal. Ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan menikah, sang mengatakan bahwa “aku siap memberikan nafkah lahir batin kepada istriku”. Nah, pendapat yang berkembang luas di masyarakat kita ini sebetulnya salah kaprah, yang menganggap bahwa nafkah batin itu maksudnya adalah kebutuhan biologis. Padahal itu masih tergolong dzahir. Bukan batin. Yang dimaksud dengan nafkah batin di sini sebetulnya, pemahaman dan ilmu agama. Jadi, seorang suami wajib mengajarkan tentang pehamaman agama kepada istrinya. Wahai para suami dan calon suami, sadarlah akan hal ini!!!
***
Bulan Ramadhan sejatinya merupakan bulan training, bulan latihan untuk kita semua. Latihan untuk menghasilkan pribadi yang lebih islami, dalam menjalani sebelas bulan di luar ramadhan. Jangan biarkan grafik keimanan kita menurun drastis seiring dengan berlalunya bulan ramadhan. Tapi, usahakanlah grafik keimanan kita terus menunjukkan angka naik, meskipun perlahan.
Mari bersama-sama kita raup sebanyak-banyaknya ‘hujan emas’ rahmat, keberkahan, ampunan, pahala di bulan ramadhan ini. Semoga kita semua sukses meraih kemenangan di hari Idul Fitri nanti, yang sejatinya kemangan itu diperuntukkan bagi orang-orang yang sukses ‘berpuasa hati’, yang tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi seluruh anggota badannya ikut berpuasa. Matanya, telinganya, tangannya, kakinya, semuanya berpuasa. Yang mana selama ini sebetulnya kita baru sampai di tahap ‘ikut merayakan’ idul fitri saja, bukan memiliki idul fitri itu, karna kita baru berpuasa dalam menahan lapar dan haus, sementara hawa nafsu kita tetap berkeliaran kemana-kemana, bahkan ada saja orang yang berkata, “sekarang gue lagi puasa, coba kalo ga, gue maki-maki deh lo, tunggu ntar bis buka puasa, abis dah lo gue embat”. Astaghfirulloh… Bermaksiat pun direncanakan.
Ya Allah… dosa kami kian menggunung. Maksiat yang kami tumpuk setiap hari kian melambung. Tanpa kemurahan-Mu, maka niscaya kami termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. Maka, dengan ke-Maha Mulia-an Mu, ampunilah kami… Aamiin…
Baca selengkapnya, klik ajah disini ..
Permalink | 15 komentar |
Label: berbagi ilmu, tholabul 'ilmi
Selasa, 26 Juli 2011
Bingkisan Hanya Untukmu...
Diposting oleh
yuliani indri lestari
di
19.42
Bismillah…
Meski waktu tak henti dan kian larut berlari
Namun pijaran nasehatmu tak pernah padam menerangi
Kini ku tak lagi bisa cermati
Tiap gurat wajah senyummu nan penuh seri
Namun, engkau kan slalu di hati ini
Karna tak mungkin ada seorang pun yang mampu mengganti
Selisik tanya di relung jiwa,
Apa yang sedang engkau lakukan di sana?
Ingin sekali diri ini menyapa,
Namun tak kuasa di belenggu raga
Ya… hari ini, empat tahun sudah kita tak bersua
Tapi bayang wibawamu masih selalu terasa
Karna semangatmu mampu membarakan langkah yang tertatih
Karna senyummu mampu menghangatkan jiwa yang letih
Wahai…
Ku bayangkan wajahmu saat ini sedang tersenyum
Menantikan ‘bingkisan’ tahunan ini yang selalu ku tulis untukmu
Wahai…
Ku sangat rindukan masa-masa indah dulu
Bercengkerama renyah di ambang sore itu
Wahai…
Mengapa engkau begitu cepat berlalu…
Tunggu aku…
Biar ku selesaikan misiku
Akan kubuat kau bangga padaku
Dan,,,ku kan memohon pada Robb-ku,
Di jannah lah tempat kita kelak bertemu…
Aamiin…
Baca selengkapnya, klik ajah disini ..
Permalink | 13 komentar |
Label: embun kehidupan
Jumat, 22 Juli 2011
Ya Allah… Aku Takut Sekali…
Diposting oleh
yuliani indri lestari
di
14.20
Ya Allah… Aku Takut Sekali…
Ya Allah… apa yang terjadi padaku?
Siang ini aku didera rasa takut yang luar biasa
Sangat ketakutan
Aku tersedu-sedan dalam sholatku
Aku takut Ya Allah…
Aku takut mati
Aku takut sekali
Ya Allah… aku takut sekali
Ketika aku terlelap, aku tak bisa bangun lagi
Padahal, aku belum sempat bersuci
Dari segenap dosa diri
Ya Allah… aku takut sekali
Ketika aku terlelap, aku tak bisa bangun lagi
Padahal, masih banyak tanggung jawab yang belum kumampui
Masih banyak janji yang belum kupenuhi
Ya Allah… aku takut sekali
Ketika aku terlelap, aku tak bisa bangun lagi
Padahal, masih banyak ilmu yang belum kuraih
Sementara ajal kian meraih
Ya Allah… apa yang harus kulakukan?
Tolong ya Allah, jangan Engkau datangkan ajalku sebelum aku istiqomah dalam ketaqwaan kepada-Mu
Aku benar-benar takut ya Allah…
Mudahkanlah jalan menuju ke-istiqomah-an itu ya Allah…
Mudahkanlah…
Ya Allah… bagaimana ini?
Bagaimana aku akan menjelaskan kepada-Mu?
Tentang ibadahku yang sangat kerdil ini
Ya Allah… bagaimana caranya?
Agar ketika sedang beribadah,
aku bisa lupa tentang iming-iming surga dan neraka
aku bisa lupa tentang iming-iming pahala dan dosa
Sehingga di hatiku, hanya dipenuhi oleh-Mu, disibukkan dengan dahsyatnya mencintai-Mu, disesakkan oleh kerinduan kepada-Mu
Bagaimana caranya ya Allah?
Agar disetiap hembusan nafas dan langkah kaki ini,
dipenuhi oleh kesyukuran kepada seluruh karunia-Mu?
Ya Allah… aku takut sekali
Aku takut mati
Tiba-tiba bayangan kematian itu seakan kian menghampiri
Aku takut sekali
Melihat kondisi diriku yang seperti ini
Bagaimana mungkin aku bertemu dengan-Mu dalam keadaan seperti ini?
Apa yang harus kukatakan kepada-Mu?
Tiada bekal istimewa yang bisa kutunjukkan kepada-Mu dan membuat-Mu bangga padaku
Rasanya diri ini miskin sekali
Ampuni ya Allah… Ampuni…
Ya Allah… ramadhan tinggal beberapa langkah lagi
Namun diriku masih seperti ini
Bagaimana ini ya Allah?
Bagaimana aku menjelaskan ini semua pada-Mu?
Tentang kefuturan ini
Ya Allah…
Sungguh… aku tak ingin begini…
Ya Allah… bagaimana caranya agar aku bisa mencuci hatiku ini?
Sehingga bersih dari noda maksiat dan dosa yang telah kutumpuk setiap hari
Sehingga cahaya hidayah-Mu dapat dengan mudah masuk ke hati ini
Menancap kuat membelenggukan kecintaan akan diri-Mu
Ya Allah…
Aku sangat malu pada-Mu
Juga pada hamba-hamba-Mu yang luar biasa itu
Hingga tak sanggup aku mengangkat wajah ini
Aku sangat malu…
Ya Allah… pertemukanlah aku dengan ramadhan ini
Jangan cabut nyawaku dalam keadaanku seperti ini
Kumohon, berilah jawaban tanya hati ini
Solusi ketakutan dan isak tangis ini
Ya Allah… aku takut mati
Permalink | 15 komentar |
Label: gerimis qolbu
Langganan:
Postingan (Atom)


