Tampilkan postingan dengan label kisah indah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah indah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juli 2011

Between Wine and Grape

Bismillah…

Assalamualaikum wr wb….

Bersumber dari sebuah email yang dikirim oleh seorang teman di Dubai sana beberapa waktu yang lalu, saya ingin membagi sebuah cerita penuh hikmah. Saya merasa terpanggil untuk membagi kisah ini ke teman-teman semua. Yang semoga dengannya kita bisa memetik hikmah dan pelajaran berharga. Sebagai pemacu semangat juang kita, untuk menggapai pribadi yang berakhlak mulia.
Langsung saja, mari kita simak bersama-sama cerita berikut (yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia).

***
-Between wine and grape-

Di dalam bukunya tentang Shawam (Orang-orang dari Sham : Syria & Lebanon), Professor Adil Abu Shanab bercerita tentang kisah dari seorang Syeikh Arab yang mana terlibat dalam sebuah diskusi dengan seorang pejabat Perancis yang sedang melakukan pekerjaannya di Syria.

Pejabat Perancis mengundang beberapa orang terkemuka Syria untuk menghadiri sebuah acara makan malam. Salah satu undangannya adalah seorang Syeikh tua dengan jenggot putihnya. Ketika pejabat Perancis melihat Syeikh tua makan dengan jari-jarinya, dia bertanya kepada Syeikh tua :
“Mengapa kamu tidak makan seperti kami?”

Yang mana Syeikh tua menjawab :
“Apakah kamu melihat aku makan dengan hidungku?”

Pejabat Perancis menjawab :
“Maksudku, mengapa kamu tidak makan dengan menggunakan garpu dan pisau?”

Syeikh pun membalas :
“Aku yakin dengan kebersihan tanganku, tapi apakah kamu yakin dengan kebersihan dari garpu dan pisaumu?”

Perkataan Syeikh ini membuat pejabat Perancis menjadi terdiam, tapi dia (pejabat Perancis) berpikir untuk membalas Syeikh tua itu.

Pada jamuan tersebut, istri pejabat Perancis tersebut duduk di samping kanannya, dan anak perempuannya duduk di samping kirinya. Masih dalam keadaan jengkel, pejabat Perancis menyuruh pelayan untuk membawakan wine, dan kemudian dia menuangkan wine tersebut untuk dirinya sendiri, untuk istrinya, dan untuk anak perempuannya. Dan kemudian meminum wine tersebut dengan cara-cara yang mengganggu Syeikh tua.

Pejabat Perancis bertanya kepada Syeikh tua :
“Dengarlah wahai Syeikh, kamu menyukai buah anggur dan memakannya bukan?”

Yang mana Syeikh hanya membalas dengan anggukan tanda setuju.

Pejabat Perancis terus berbicara, sambil menunjuk kepada buah anggur dan wine, berharap bisa mengalahkan Syeikh tua.
“Minuman ini terbuat dari buah anggur ini, lalu mengapa kamu memakan buah anggur ini tetapi kamu menjauhkan diri dari wine ini?”

***
Intermezzo……
Kira-kira, kalau kita yang ditanya begitu, apa jawaban yang akan keluar dari mulut kita? Akankah kita diam sejenak sambil bengong, memikirkan jawaban yang pas? Atau mungkin kita langsung menjawab, “Karena wine itu hasil fermentasi, dan anggur adalah buah yang masih alami, dan bla…bla…bla…”
Ternyata sungguh sulit menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang mengena telak di hati penanya, hingga membuatnya sadar sepenuhnya. Dan bisa membuat seseorang pecandu wine sekalipun, terhenyak dan berhenti seketika dari candunya.
Baiklah…. Mari kita lanjutkan kisahnya…
***

Semua tamu melihat ke arah Syeikh tua, (mereka merasa bahwa kali ini Syeikh tua tidak mempunyai jawaban untuk pertanyaan itu).

Kemudian, Syeikh tua dengan santai menjawab :
“Ini adalah istrimu, dan ini adalah anak perempuanmu. Anak perempuanmu adalah berasal dari istrimu (anak dilahirkan oleh istri : pen), lalu bagaimanalah bisa istrimu itu sah untukmu tetapi anak perempuanmu itu tidak sah untukmu?”

Diceritakan setelah itu bahwa pejabat Perancis menyuruh pelayan untuk segera menyingkirkan wine dari meja makan.
***
Semoga Allah membimbing kita semua dan memberi kita kearifan, tidak hanya untuk bisa melihat perbedaan antara yang benar dan yang salah, tapi juga untuk mengikuti kebenaran tersebut yang telah kita ketahui, dan istiqomah dalam menetapi petunjuk dari Allah, hingga akhir hayat. Aamiin….

Alhamdulillah… Demikianlah postingan kali ini. Salah khilaf serta kekurangan dalam menterjemahkan, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Selasa, 27 Juli 2010

Titip rindu buat ayah…

Bismillah…

“Ayah, kenapa sih kok orang itu dari tadi marah-marah terus sama anaknya?”, tanya seorang bocah perempuan kepada ayahnya sambil menunjuk ke arah televisi. Sambil tersenyum sang ayah menjawab, “Orang itu sebenarnya tidak sedang memarahi anaknya, tapi sedang mencoba menyadarkan anaknya karna anaknya sudah berbuat kesalahan, yaitu tidak mendengarkan nasehat orang tua. Adek ga boleh gitu ya. Adek harus dengerin nasehat orang tua. Biar jadi anak yang sholehah dan kelak akan menjadi penghuni surga”.

Demikianlah sedikit petikan percakapan singkat antara seorang gadis kecil dengan ayahnya. Kenapa kali ini saya menyisipkan percakapan tersebut? Karna percakapan ini mengingatkan saya pada kehidupan saya yang dulu. Ketika saya masih kecil, saya pun pernah berada dalam posisi anak itu. Ketika ada hal yang tidak saya mengerti, saya selalu bertanya pada ayah. Bahkan hingga dewasa pun, saya masih sangat dekat dan akrab dengan ayah. Selalu berbagi cerita apa saja. Tertawa penuh canda bersama.

Ayah… bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja? Sudah lama sekali kau tak berada di dekatku. Sudah lama sekali kau tak membagi ceritamu denganku. Sudah lama sekali pula kita tidak bepergian bersama ke pantai. Makan rajungan rebus. Melihat orang memancing. Minum air kelapa muda di tepi laut. Duduk-duduk  di jembatan menjelang matahari terbenam. Main ular tangga. Nonton film dan acara favorit bersama. Mengomentari setiap ada seseorang yang lewat di depan rumah dengan dandanan yang aneh, lalu kita pun tertawa bersama.

Ayah… apa yang sedang kau lakukan sekarang? Aku ingin sekali melihat senyummu lagi saat ini. Aku masih ingat ketika dulu aku mulai berbuat jahil menyembunyikan kacamatamu, maka kau akan mengejarku dan mencubitku, lalu memelukku dengan penuh kasih sayang. Ketika aku pertama kali bisa naik motor, kau pun tersenyum bangga. Pengajaranmu tidak sia-sia.

Ayah… Apakah kau masih ingat ketika aku menangis tertahan karna tidak jadi magang ke Malaysia karna ayah tidak punya uang untuk bekalku? Aku masih ingat waktu itu ayah pun sedih. Bahkan ada seberkas beningnya airmata yang tertahan di sudut matamu.

Ayah… apakah kau sedang tersenyum sekarang? Apakah kau tau sekarang aku sedang menulis tentangmu? Hari ini tepat sudah tiga tahun kita berpisah. Aku sangat merindukanmu ayah. Sangat amat merindukanmu. Aku ingin memelukmu saat ini. Mengapa kau begitu cepat meninggalkanku?

Aku takut ayah… Semakin hari, jelas wajahmu semakin memudar di ingatanku. Lukisan senyum di bibirmu semakin sulit untuk ku ingat karna telah lama sekali aku tak pernah melihatnya lagi. Sorot mata penuh kasih sayangmu semakin sulit kudalami. Aku takut suatu saat aku akan benar-benar tidak ingat lagi garis-garis wajahmu. Aku takut sang waktu akan merenggut dan menghapus detail tentangmu di benakku.

Ayah… masih sangat jelas di ingatanku dialog terakhir kita. Ketika itu kau sudah mengalami sakit yang sangat parah. Sehari sebelum kau berpulang. Kala itu kau meminta untuk tidur di kamarku agar aku bisa lebih dekat denganmu dan bisa total merawatmu yang sedang sakit parah. Tapi waktu itu, tiada sedikitpun terintas di benakku bahwa itu adalah saat-saat terakhirku bersamamu.

Kala itu kau minta aku untuk menolongmu bangkit dari posisi tidurmu, dan menolongmu untuk duduk di kursi sandar merah di samping ranjangku. Aku masih ingat jelas wajahmu kala itu. Masih saja senyum itu menghiasi wajahmu. Padahal kau tengah sakit parah. Aku malah menangis tersedu-sedu melihat keadaanmu waktu itu. Aku menangis melihat kau yang telah kepayahan untuk bergerak. Aku serasa bisa merasakan sakit yang sedang kau rasakan.

Masih sambil tersenyum, kau bertanya padaku, “uli kenapa nangis?”. Dan pertanyaanmu itu membuat jiwaku semakin menangis. Aku tak kuasa menjawabnya. Aku malah semakin menangis. Tak kuat rasanya menahan sesak di dada. Lalu kau kembali bertanya, “apa yang bisa bikin uli bahagia sekarang?”. Kali ini pun kau masih tetap tersenyum. Sambil terbata-bata menahan isak tangis, aku menjawab “Ayah harus sembuh. Hanya itu yang bisa bikin uli bahagia”. Dan kau hanya tersenyum mendengar jawabanku kala itu. Padahal aku menginginkan waktu itu kau bilang padaku, “Ya, ayah pasti akan sembuh sayang”. Tapi kata-kata itu tak pernah keluar dari mulutmu. Apa mungkin kau sudah tau bahwa kau memang tak akan pernah sembuh karna beberapa saat lagi kau akan dipanggil oleh Sang Pemilik Jiwa?

Kesedihanku kala itu sangat amat tak terhingga. Ketika nafas terakhirmu berhembus pun, kau meneteskan airmata di sudut matamu. Tangisku meledak. Aku sangat sakit dan terpukul atas kepergianmu. Aku benar-benar kehilangan. Aku benar-benar tidak siap. Aku tau, aku tidak boleh menangisi kepergianmu, tapi mana mungkin? Mana mungkin aku tidak menangis ditinggalkan orang yang paling dekat denganku?

Ayah… kuingin kau slalu ada di dekatku. Menjadi sahabat sejatiku. Aku sangat merindukanmu ayah,,, dengarkanlah suara hatiku ini. Muncullah di dalam mimpiku dengan senyuman dan pelukan kasih sayangmu. Karna kasih sayangmu selalu mengiringi tiap langkah hidupku hingga ku dewasa.

Ya Allah… sampaikan salam rinduku buat ayah. Jagalah ia di sisimu. Terangi pembaringan terakhirnya. Mudahkanlah hisabnya. Pertemukanlah aku kelak dengannya. Dan kumpulkanlah kami semua kelak di dalam surga firdausmu.

Ayah… aku akan selalu dan selalu merindukanmu…

Titip rindu buat ayah….

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Jumat, 17 Juli 2009

Cuti Menulis Sejenak Untuk Melihat Sebuah Senyum Indah :)


Sedih juga nih rasanya harus cuti sejenak dari menulis. Pasalnya saya harus pulkam untuk beberapa waktu. Dan rasanya sih tidak mungkin saya menulis pada saat pulkam itu. Soalnya acara pulkam kali ini dengan tujuan kondangan :D. Ga lucu kan ditengah-tengah acara saya ijin ke warnet mo nulis posting dulu. Ckckckck…

Yup… Insya Allah beberapa hari kedepan seorang cewek sahabat baik saya
-yang sekaligus saya anggap sebagai kakak saya- akan melaksanakan walimatul ursy. Wahh.. Ini merupakan kabar gembira bagi saya. Ketika pertama kali dia menyampaikan kabar ini ke saya pun, rasanya saya sangat-sangat bahagia. Sampe-sampe si ummi bilang gini, “Sebenernya yang mo nikah itu sapa sih? Kok yang seneng setengah mati malah kamu”. Ckckck... Jadi malu euy.. Ih si ummi mah suka gitu deh. Emangnya ga boleh ya ikutan seneng :P.

Eh tapi beneran deh. Rasanya udah ga sabar banget nih pengen ngeliat sang pengantin bersanding dipelaminan. Kalo udah ngebayangin gini nih, saya bisa senyum-senyum sendiri
-bukan berarti udah gila tau… ih jahat =P-. Rasanya baru kemaren aja nih kita berdua -saya dan sahabat saya itu- jalan-jalan keliling kota naek motor. Trus dia nginap dikamar saya. Cari dinner bareng. Shopping bareng. Hunting mp3 Muse bareng. Hunting lowongan kerja bareng. Sampe-sampe nyasar pun bareng juga =)). Eh tapi ke toilet ga bareng lho :D.

Nah maka dari itu sodara-sodara
-halah kayak kampanye aja- saya bela-belain untuk pulkam demi menghadiri hari paling berbahagia untuknya ini. Walaupun harus sampe berdarah-darah :D. Karena jarak yang memisahkan kami cukup lumayan jauh. Sekitar 15 jam perjalanan bila ditempuh pake bus. Soalnya mo naek pesawat ga cukup duitnya :D -semoga aja ada salah satu direktur perusahaan penerbangan yang baca tulisan ini n ngasih tiket gratis deh. Ckckck… mimpi kali yee…-. Alhasil harus menyiapkan mental deh untuk melakukan perjalanan yang sangat panjang ini. Demi melihat langsung sebuah senyum bahagianya. Ya Allah… Indah sekali rasanya :).

Andai aja saya ga harus hijrah kesini, tentunya saya ga akan terpisah sangat jauh dengannya. Ga terasa nih udah hampir tujuh bulan ga ngeliat dia. Hmm... Gimana ya dia sekarang? Tambah ndut kah atau makin kurus kah? Yang pastinya adalah, dia tambah bahagia. Ya, rasanya saya udah bisa membayangkan senyum bahagianya. Ya Allah… Ga sabar nih pengen buru-buru kesana. Kalo bisa terbang, pasti saat ini juga saya akan terbang deh kesana. Hahaha... ~ndri... ndri... sabar donk *_*~

Nah, yang bikin saya bingung tujuh belas keliling sekarang adalah, harus ngasih kado apanih buat dia? Kado yang special, bermanfaat, berkesan, dan tentunya ga akan pernah usang termakan masa
-tapi kalo bisa jangan mahal-mahal, soalnya stock di dompet udah menipis, hehe-. Ini nih yang bikin saya ga bisa tidur beberapa malam ni untuk memikirkannya -bo’ong, tidur kok- :D-. Tolongin saya donk sob… Please… Harus kasih apa nih? Hikzzz… Sampe detik ini belom ketemu ide juga. Padahal Awal minggu depan udah harus kesono. Tolongiiiinnn…. Bagi siapa yang dengan ikhlas hati ingin menolong saya, ntar saya doain masuk surga deh. Dimudahkan rejeki dan jodohnya. Diberikan akhlak dan kefahaman yang luhur. Semakin berbakti pada orang tua. Dan sukses dunia akhirat. Aminnn… Atas segala bantuannya saya haturkan jazakumullahu khoiro.

Satu lagi, saya minta maaf ya karena akan menghilang dari peredaran untuk sementara waktu. Maaf juga bagi semua teman yang udah berkunjung kesini tapi belom bisa saya kunjungi balik karena masalah waktu dan keadaan yang tidak memungkinkan. Serta koneksi internet yang akhir-akhir ini semakin dudulz :D. Tapi insya Allah nanti selepas saya kembali, saya akan mengunjungi kalian semua. Maaf juga untuk salah seorang sobat yang memberikan award ke saya, tapi belum bisa saya ambil. Karena kemaren pas mau ambil awardnya, loading pagenya gagal mulu. Koneksi internet memang sedang tidak bersahabat dengan saya. Beberapa waktu ini kami terlibat masalah yang tak berkesudahan. Ckckck… Tapi ntar insya Allah tetap saya ambil kok. Makasih ya semua. Mohon doanya. Semoga kita bisa berjumpa kembali pada episode berikutnya :D. Amin. 

Eh jangan lupa tolongin yang tadi ya... Pleasee.. :)

*apa saya harus menyanyikan lagu kesukaannya “Muse – Sing for Absolution”? Oh no. Its so bad idea. I cant singing. Coz if I sing, storm will come. Hahaha… Seharusnya dia yang menyanyikan "Butterflies n Hurricane" untuk saya. Anything else??? Please help me :(

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Rabu, 10 Desember 2008

Sahabat Sejati


Sahabat sejati itu adalah seseorang yang datang ketika yang lain pergi. Yang bisa menerima apa yang ada di diri kita secara keseluruhan. Yang dengan tenang mendengarkan segala cerita dan keluh kesah kita. Yang dengan sabar menghibur dan menemani kita pada saat apapun. Tak hanya dikala kita senang, namun dikala kita sedih bahkan teramat sedih pun, seorang sahabat sejati akan tetap berada disamping kita. Bukan seseorang yang datang kepada kita hanya ketika ia perlu, tapi setelah itu ia pergi menghilang entah kemana. Dan suatu saat datang lagi kepada kita ketika ia membutuhkan pertolongan kita. Kedengarannya sangat menyebalkan bukan?

Sekarang pertanyaannya, apakah benar sahabat sejati itu ada? Hmm.. Entahlah.. Karna sampai saat ini pun belum kutemukan. Yang ada hanya teman teman biasa, yang semula ku kira akan menjadi sahabat sejati bagiku. Namun ternyata tidak. Kebersamaan akan terkikis oleh waktu. Semoga saja kita bisa segera bertemu dan memiliki apa itu yang dinamakan dengan sahabat sejati. Semangattt...!!! Yeahh.

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Rabu, 03 September 2008

The Unique Personality


     Kali ini aku mau berbagi cerita tentang seseorang yang kalo menurut aku, beliau memiliki kepribadian yang sangat amat unik. Belum pernah kutemui orang seperti ini sebelumnya di kotaku. Sebut saja beliau Nenek Kamti. Begitu biasa orang-orang disana memanggilnya. Dalam usianya yang sudah terbilang senja, beliau masih sangat energik. Sangat berbeda dengan orang-orang lansia pada umumnya. Padahal usianya sudah 70 tahun lebih lho. Makanya aku sangat tertarik untuk menulis tentangnya di blogku ini. Karena jujur aku sangat tertarik dengan kepribadiannya.
     Beliau tinggal di salah satu kota di banjarmasin, tepatnya di Loktabat. Rumahnya dekat dengan sebuah masjid yang menjadi tempat kesehariannya untuk menjalani kehidupan agamanya. Sebagai tempatnya menghadiri pengajian, sholat, hingga mengais sedikit rezeki. Hmm... Kedengarannya sangat menarik bukan?
     Aku selalu berusaha meluangkan waktu untuk bercengkerama dengannya. Biasanya setiap pagi beliau selalu mampir ke rumah ibuku untuk menawarkan bantuan atau sekedar untuk menjenguk. Dengan menuntun kemudian mengayuh sepeda tuanya, beliau berangkat dari rumahnya kemana pun beliau ingin. Biasanya beliau paling sering pergi ke pasar. Malah hampir tiap pagi. Makanya beliau mampir ke rumah ibu untuk menawarkan jasa siapa tau aja ibu ada barang yang mau dititipkan untuk dibelikan di pasar tanpa pernah mau diberi imbalan. Betapa mulia bukan sifat nenek tua ini? Aku pun sampai heran dan terkagum-kagum ketika pertama kali melihat secara langsung kejadian ini. Aku berpikir, ternyata di saat-saat sekarang ini masih ada orang berbudi luhur seperti beliau. Sejak saat itulah aku sangat mengagumi sosoknya. Aku selalu mencari informasi tentang kesehariannya.
     Rasa tolong-menolong sangat besar tertanam di dalam dirinya. Juga sikap jujur yang sangat melekat dalam kepribadiannya. Semua itu membuatku selalu merenungkan setiap apa yang dilakukannya. Keunikan lainnya adalah, beliau tidak bisa memakan makanan yang "aneh-aneh". maksudnya disini adalah, beliau hanya memakan makanan-makanan tradisional, terutama makanan hasil olahannya sendiri. Beliau sangat tidak mengenal jenis makanan-makanan kemasan ataupun produksi pabrik yang memiliki bahan pengawet dengan aneka cita rasa. Intinya, beliau hanya memakan barang-barang yang bersifat alami, tanpa campuran bahan kimiawi atau sejenisnya. Makanya sampe ibuku bilang, orang tua satu ini memang sangat unik. Bahkan bisa dikatakan beliau hampir tidak pernah sakit. Selalu terlihat sehat dan energik dalam semua aktifitasnya.
     Ketika pertama kali aku melihatnya menuntun sepeda tuanya ketika akan pergi ke pasar, ada perasaan sangat bangga di dalam hatiku. Bangga karena sampai saat ini ternyata masih ada orang tua yang sangat bersemangat seperti beliau. Aku sampai tersenyum sendiri. Dalam hati aku berkata, "Wah, aku kalah ni dengan beliau yang bisa naik sepeda. Hehehe...". Karena jujur aku emang ga bisa naik sepeda, tapi langsung belajar naik sepeda motor. Emang banyak orang bilang itu ga masuk akal, tapi emang gitu kenyataannya. Sampe sekarang pun aku belum bisa naik sepeda. Hehehe... Memalukan banget ya.
     Dari jauh sudah kulihat beliau menuntun sepedanya dengan sangat hati-hati. Kulihat juga sebuah tas kecil yang dicantelkan di atas sepedanya itu. Sepeda itu sebenarnya tergolong agak tinggi dari badannya, hingga terlihat jelas kalau sebenarnya dia agak kesulitan untuk menuntunnya. Tapi, beliau tak pernah merasa lelah. Tetap dan selalu bersemangat untuk memulai hari. Pertama-tama aku bingung, kenapa tidak beliau naiki saja sepeda itu? Kenapa harus dengan menuntunnya? Dan belakangan aku tau alasannya, ternyata beliau menuntun sepeda itu ketika menganggap jalanan masih sangat ramai, jadi belum aman untuk mengayuhnya. Aku pun jadi semakin terkesima dengan alasannya. Memang pemikirannya sangat beralasan dan bertanggung jawab. Pemikiran yang sangat matang. Berbeda dengan kebanyakan orang muda, yang suka mengambil jalan pintas untuk melakukan berbagai hal dan perbuatan. Hmm... Aku pun kembali tersenyum sendiri melihat gelagat orang tua ini.
     Di suatu pagi, aku punya kesempatan untuk berbicara berdua dengannya. Entah kenapa pagi-pagi itu beliau datang lebih awal ke rumah ibu. Beliau membawa beberapa jajan dan makanan hasil buatannya sendiri untuk ibu. Memang begitulah beliau. Sangat suka untuk berbagi. Aku ajak beliau untuk sarapan bareng aku dan ibu. Tapi beliau menolak. Beliau lebih memilih untuk memakan jajan yang sudah sempat dibuat oleh ibu sebelumnya untuk sarapan. Beliau bilang kalau beliau tidak biasa sarapan terlalu pagi. Kecuali agak siangan sedikit, begitu katanya.
     Dari percakapan singkatku pagi itu dengannya, aku mendapatkan banyak informasi tentangnya. Terutama tentang kehidupan sehari-harinya. Karena aku memang sengaja untuk menanyakan langsung kepadanya. Ternyata beliau adalah salah satu orang tua yang tidak betah berdiam diri tanpa kegiatan. Beliau sangat aktif. Beliau pun menceritakan kegiatan sehari-harinya kepadaku. Dari bangun setelah sholat subuh, biasanya dia mempersiapkan diri untuk bersih-bersih rumah, kemudian pergi ke pasar mencari bahan-bahan dasar untuk membuat jajanan yang kemudian dijualnya ke tetangga sekitar atau bahkan yang sering dijualnya di masjid ketika beliau melakukan pengajian. Semua yang dijualnya hanyalah jajanan-jajanan kecil tradisional. Misalnya kacang asin, rempeyek, kerupuk, tapai ketan, keripik pisang, dan jajanan kecil lainnya. Kalau dilihat dari segi keuntungan, memang bukan profit yang diharapkannya. Tapi lebih sebagai pengisi kegiatan kesehariannya. Bagaimana tidak? Keuntungan dari berjualan makanan kecil itu hanyalah sedikit. Belum lagi beliau sering menyedekahkan sebagian dagangannya kepada santri-santri pesantren dekat masjid tempatnya tinggal. Memang sangat luhur budinya. Dan uniknya lagi, beliau selalu meninggalkan dagangannya di pintu masuk masjid. Tanpa pernah bertransaksi langsung dengan pembelinya. Beliau mempercayakan semuanya pada pembeli untuk mengambil jajan yang ingin dibeli dan kemudian menaruh uangnya di samping dagangannya sementara beliau mengikuti pengajian. Aneh bukan? Jaman sekarang mana ada penjual yang seperti itu. Tapi beliau mempercayakan dan mengikhlaskan semuanya kepada Allah. Dan salutnya lagi, tidak ada satupun dari pembeli yang curang. Memang sangat menakjubkan cara orang tua ini mengais rezeki di jalan Allah.
     Dan mungkin inilah sekelumit kisah tentang seseorang yang memiliki kepribadian yang patut kita contoh. Kepribadian yang sangat kuat dan tegar. Kehidupan yang berimbang antara dunia dan akhirat. Banyak pelajaran yang aku dapatkan darinya. Banyak pengalaman hidupnya yang membuatku terpana. Mudah-mudahan masa tuaku kelak jadi sepertinya yang selalu bersemangat dalam menjalani kehidupan yang notabene sangat berat ini. Amiin...

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Kamis, 07 Agustus 2008

Hidup Itu Adalah Anugerah


     Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.

     Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, "Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?"
Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.

     Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya."

* * * * *

     Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.


     Hidup adalah anugerah

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..