Selasa, 13 Juli 2010
Sedikit sharing…
Permalink | 18 komentar |
Label: berbagi ilmu, catatan, edukatif, tholabul 'ilmi
Sabtu, 03 Juli 2010
Tholabul ilmi(2)
Permalink | 16 komentar |
Label: berbagi ilmu, catatan, edukatif, grace, spirit, story
Senin, 07 Juni 2010
Ujian oh ujian…
Bismillah…
Kemaren malam nyempetin nge-sms salah satu temen blogging di tangerang. Anak kelas 1 SMA yang lucu dan penuh semangat. Lucu karna orangnya lumayan lugu. Sering minta dikasih nasehat juga. Mirip kayak siswa-siswa di tempat saya kerja. Hehe..
Dia cerita, blog sama emailnya dah lama dihapus (pantas beberapa waktu yang lalu sempet mo nengok blognya tapi ga bisa), karna dia bilang kalo lagi online bawaannya suka lupa waktu. Jadi pengennya online terus. Kok bisa ya? Saya jadi bingung dengernya. Secara saya dah lama banget bikin blog, kadang memang ada saat-saat yang mengharuskan saya untuk ga bisa online karna alasan pekerjaan atau yang lainnya, tapi menurut saya itu lumrah. Ntar kalo dah ada waktu kan bisa online dan nulis lagi. Selagi ga bisa online ga perlu sampe menghapus blog atau email segala. Menurut saya, tindakan penghapusan ini terlalu ekstrim. Hoho ^_^
Saya saranin dia buat ngebikin daily activities schedule yang rapi, jadi semuanya bisa sama-sama jalan, ga perlu sampe melakukan aksi penghapusan blog dan email segala. Tapi lucunya dia bilang gini, “Ya itu dia masalahnya kak, ngatur jadwalnya itu lho, ribed banget, hehe”. Lucu ya.. Jawaban yang polos.
Senin depan jadwal ujian semesteran, katanya. Dia sempet curhat gini, “Kak, kadang aku tu sebel banget kalo lagi pas ujian, sebel sama temen yang ngumpulnya paling duluan, kan bikin yang lain jadi buru-buru ngumpul juga. Salah ga sih kak kalo kita ngumpulnya yang terakhir aja? Kan waktunya masih ada”. Saya coba kasih penjelasan gini, “Ya ga salah donk. Seharusnya semua siswa bisa menggunakan waktu pengerjaan ujian yang udah dikasih dengan semaksimal mungkin. Jadi ngerjain soalnya juga bisa maksimal. Hasilnya pun juga bisa lebih maksimal. Tidak terburu-buru. Ngapain buru-buru ngumpul kalo ntar hasilnya malah ancur karna banyak soal yang sebetulnya belum kelar dikerjain tapi jawabannya buru-buru dikumpulin cuma karna ikut-ikutan temen lain yang udah ngumpulin duluan? Ya ga?”. Dia jawab lagi gini, “Hehe bener kak, ternyata yang ngumpulinnya paling cepet nilainya gak lebih bagus dari yang agak lamaan, malah nilainya kecil. Ngejar gengsi kali, pengen diliat orang. Hehe…”
Aku tambahin juga beberapa statement yang mudahan bisa bikin dia tenang dan lebih percaya diri lagi saat ujian. Ada banyak alasan kenapa seorang siswa ngumpulin hasil jawabannya cepet-cepetan :
- Udah bener-bener blank, ngeliat soal makin stress makanya buru-buru dikumpulin.
- Pengen gaya dan dibilang keren karna ngumpulnya paling duluan, padahal jawabannya itung kancing semua.
- Ikut-ikutan yang lain yang dah ngumpul duluan, karna malu kalo keliatan ngumpulnya paling belakangan, e taunya lupa padahal masih banyak soal yang belum dijawab. Ilmu ikut-ikutan ini yang parah, ntar orang nyebur ikutan nyebur. Ckckck…
- Apalagi kalo pas ujian seruangan sama si do’I, wah ilmu ja’imnya kumat. Kelar ga kelar, bener ga bener, yakin ga yakin sama jawaban, yang penting paling cepet ngumpuuulll… Biar dibilang keren sama si do’i.
Kepercayaan diri itu penting banget dan harus dibangun apalagi saat-saat menghadapi ujian.Udah berapa banyak siswa yang ga lulus/ga naik kelas karna ga percaya dengan kemampuan diri sendiri dan lebih milih ikut jawaban orang lain, nyontek kanan kiri, nge-sms bandar jawaban, de-el-el. Dan hasilnya?!
Penyesalan tiada guna. Hanya menambah luka sukma. (disadur dari puisi ternama dengan sedikit penyesuaian)
Permalink | 7 komentar |
Label: berbagi ilmu, catatan, edukatif, story
Rabu, 02 Juni 2010
Gimana sih jadi pelayan publik yang baik?
Bismillah…
Kali ini saya ingin sedikit membagi apa yang sudah saya dapatkan dalam mengikuti seminar dan pelatihan front office senin lalu. Great! Sungguh suatu seminar yang luar biasa, dengan pembicara yang luar biasa, dan para audience yang tak kalah luar biasanya.
Pembicara kali ini adalah Ibu Hj. Ersna Prahesti, eks penyiar RRI era 70-an namun hingga kini masih aktif di lembaga tersebut. Kepiawaiannya dalam berbahasa membuatnya dicintai banyak orang. Beliau telah sangat sering diundang ke berbagai acara dan diminta untuk menjadi pembicara dan memberikan pelatihan-pelatihan kepada orang-orang yang pekerjaannya berhubungan langsung dengan publik, misalnya front office (FO), customer service, bahkan tidak jarang instrument-intrument lembaga kesehatan juga meminta bantuan kepada beliau untuk memberikan pelatihan seputar melayani pelanggan/konsumen.
Berikut saya akan mencoba menuliskan kembali apa yang disampaikan beliau pada saat memberikan pelatihan kepada kami, para petugas administrasi cabang yang juga bertindak selaku FO.
Paradigma adalah suatu aliran yang mendasari seseorang untuk berkeyakinan dan merefleksikan keyakinannya sehingga seseorang dapat berinovasi dan berdedikasi dalam suatu kegiatan tertentu. Paradigma pelayanan prima adalah memberikan pelayanan kepada pelanggan secara maksimal dan sebaik mungkin, sehingga pelanggan merasa diuntungkan dan merasa sangat puas terhadap pelayanan yang kita berikan. Namun kenyataannya, masih banyak sekali lembaga/organisasi yang hingga saat ini belum mengacu pada pelayanan yang prima dalam melayani konsumen atau pelanggannya. Sehingga banyak sekali meninggalkan kekecewaan di hati para pelanggan.
Salah satu resep untuk menuju ke arah masa depan yang ideal bagi lembaga/organisasi pelayanan public adalah dengan menyajikan pelayanan yang prima kepada masyarakat (pelanggan). Seorang pakar berpendapat, ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk memusatkan perhatian kepada pelanggan, sbb :
1. Mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dibicarakan oleh pelanggan.
2. Perhatikan sikap tubuh Anda, bertindak secara tenang dan rileks.
3. Menatap mata pelanggan saat ia berbicara dan tersenyum sehingga tatapan mata Anda menjadi teduh, dan menyejukkan hati orang yang memandang.
4. Memperhatikan ekspresi wajah dengan menampilkan senyum yang menyejukkan hati orang yang memandangnya.
5. Menanggapi pembicaraan, bila pelanggan mengharapkan tanggapan.
6. Memperhatikan nada bicara, jangan sampai terlalu rendah dan atau terlalu tinggi, karena dapat mengakibatkan pelanggan yang kita hadapi merasa tersinggung.
7. Menempatkan kepentingan pelanggan pada urutan nomor satu.
8. Mengetahui keinginan pelanggan.
9. Memperhatikan gelagat pelanggan (negatif, netral, atau positif).
Ibaratnya suatu piramida, seharusnya pelanggan ditempatkan pada posisi tertinggi/puncak. Sedangkan para pemimpin lembaga/organisasi berada pada posisi paling bawah. Namun yang terjadi mayoritas kebalikannya. Sedangkan kepuasan pelanggan hanya dapat dicapai apabila lembaga/organisasi yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dapat mengerti dan menghayati serta berkeinginan untuk melaksanakan pelayanan prima dalam praktek memberikan pelayanan kepada pelanggan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai pelayan public :
1. Menjiwai pekerjaan/tupoksi (tugas pokok fungsi). Tau betul job desk ataupun SOP yang berlaku di tempat kerja.
2. Profesional. Tidak mencampuradukan masalah pribadi dengan perihal pekerjaan. Sehingga bisa bekerja dengan maksimal dan tanpa pilih-pilih dalam melayani pelanggan.
3. Memahami visi dan misi lembaga/organisasi tempat bekerja. Sebagai salah satu modal dalam menjawab pertanyaan dari pelanggan.
4. Memperlakukan objek sebagai raja. Tidak peduli seperti apapun bentuk pelanggan yang sedang kita hadapi, mereka tetaplah raja, yang kita harus lakukan adalah melayaninya dengan baik dan maksimal.
5. Rasa memiliki terhadap lembaga/organisai tempat bekerja. Sehingga termotivasi untuk melakukan hal-hal positif yang bisa ikut mendukung perkembangan dan kemajuan lembaga/organisasi kedepannya.
6. Memahami kerja adalah suatu ibadah. Sehingga tidak selalu memandang atau mengorientasikan pekerjaan dengan uang dan imbalan-imbalan lainnya. Dan bekerja pun bisa lebih ikhlas.
7. Punya target baik kedalam maupun keluar. Penting sekali untuk membuat target di dalam diri sendiri ketika akan melakukan sesuatu. Karna salah satu faktor yang menentukan hasil yang akan dicapai adalah penentuan target pada awal perencanaan.
Seorang pelayan publik yang baik harus memperhatikan hal-hal yang sifatnya pribadi, antara lain :
1. Ramah/murah senyum
2. Supel
3. Rendah hati
4. Percaya diri
5. Positif thinking
6. Ringan tangan/suka menolong
7. Disiplin dalam segala hal
8. Memperhatikan busana
Demikian yang bisa saya bagikan kepada sobat-sobat semuanya. Semoga yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang besar dan merupakan amal sholeh yang tak berkesudahan.
Permalink | 12 komentar |
Label: berbagi ilmu, catatan, edukatif


