Selasa, 22 Desember 2009

Apakah Disiplin itu Suatu Hal yang Tidak Mungkin Diterapkan?

Disiplin. Satu kata yang memiliki makna yang sangat luas. Terkadang satu kata itu terdengar begitu menakutkan. Di sekolah-sekolah, di kantor-kantor, dan bahkan disemua tempat.


Di sekolah misalnya, guru-guru yang terkenal memiliki tingkat disiplin tinggi biasanya mendapat julukan “Guru Killer” dari murid-muridnya -pengalaman pribadi :D-. Di kantor-kantor juga tidak jauh berbeda. Sudah menjadi rahasia umum bila ada karyawan yang menjuluki si bos dengan sebutan “Bos Killer”, mungkin saking disiplinnya si bos makanya si anak buah ngasih penghargaan berupa julukan begitu. Ckckck…


Terkadang sikap disiplin dihubungkan dengan sikap otoriter, diktator dlsbg. Padahal maknanya sangat berbeda. Dan julukan-julukan “Killer” tersebut diatas lahir karena pemahaman yang salah tadi. Disiplin disama artikan dengan diktator ataupun otoriter. Inti dari pemahaman yang salah ini bisa digambarkan dengan satu kata yaitu Kejam. Jauh sekali bukan? Padahal disiplin itu sendiri bermakna, taat pada peraturan dan system yang telah ditetapkan, bukan berarti kejam.


Alhasil dari pemahaman yang salah ini, sosok guru dan atasan (bos) tidak lagi disegani dan dihormati, melainkan ditakuti. Padahal gambarannya ketika Si A menakuti Si B, itu hanya berlaku pada saat Si B berada di hadapan Si A. Tetapi di belakang, Si A bisa saja mengejek-ngejek Si B seenaknya. Karena yang ada adalah rasa takut, bukannya segan. Karena bila Si A segan terhadap Si B, di depan atau di belakang Si B pun, Si A tetap saja menyegani Si B, tetap menghormatinya.


Sekarang pertanyaan begini, apakah disiplin itu merupakan suatu hal yang tidak mungkin untuk diterapkan? Khususnya kepada diri kita pribadi terlebih dahulu. Disiplin dalam segala hal tentunya. Karena bila kita sudah terbiasa untuk disiplin, kita gak akan kaget lagi dengan orang lain yang memiliki disiplin yang tinggi. Kita juga gak akan kaget dengan peraturan-peraturan yang diterapkan dimanapun, kapan pun, oleh siapa pun, yang mana peraturan itu harus dipatuhi.


Jadi, sekarang yang harus kita lakukan adalah, menerapkan disiplin pada diri sendiri terlebih dahulu. Bila itu sudah sukses, maka selanjutnya kita bisa membiasakan disiplin itu di kalangan keluarga, masyarakat, dan alhamdulillah banget kalo suatu saat negara dan bangsa kita tercinta ini bisa menjadi Bangsa yang memiliki Disiplin Tinggi. Amiinn…


*btw, gimana ya kalo misalnya yang disiplin itu malah karyawannya, tapi bosnya malah gak ngerti system dan aturan? Hehe… Ada yang mau jawab???

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Selasa, 15 Desember 2009

Hikmah di Balik Musibah…

Boleh percaya boleh gak nih sob. Kali ni saya mau sedikit berbagi cerita yang saya saksikan langsung kejadiannya. Bisa dibilang lucu tapi penuh hikmah.

Waktu itu kejadiannya malam jum’at. Ketika saya sedang duduk-duduk santai bareng ibu dan adek di sebuah warung yang menghadap ke jalan raya. Tiba-tiba ada sepasang suami-istri (menggunakan sepeda motor) berhenti tepat di hadapan kami. Si istri turun dari motor sembari mencengkeram kuat di arah lehernya. Kemudian dengan setengah sadar si istri berucap sambil menunjuk ke arah depan, “Jambretttt……”

Otomatis kami semua langsung bingung menoleh sana sini mencari dimana jambretnya. Si istri tadi masih saja belum sepenuhnya sadar apa yang sebenarnya terjadi. Si suami pun hanya melongo bingung.

Kemudian kami suruh suami istri itu duduk di kursi yang kami sediakan. Si istri mencoba menenangkan diri sambil mengingat apa yang terjadi kemudian menceritakannya kepada kami.

Ternyata begini, kalung emas yang ada di leher si istri baru saja dijambret. Aksi si jambret berlangsung ketika si suami mematikan mesin motor untuk berhenti tepat didepan kami. Maksud si suami berhenti mampir adalah untuk membeli jajan. E gak taunya si istri malah dijambret.

Yang lucunya adalah, si istri mengaku biasanya dia tidak pernah pergi keluar rumah tanpa mengenakan jilbab. Gak tau kenapa malam itu dia keluar tanpa memakai jilbab, hanya menggunakan baju santai dengan bagian leher yang terlihat jelas.

Wah, besar sekali ya manfaat jilbab ini. Sangat-sangat tidak terduga sebuah jilbab bisa menyelamatkan seseorang dari penjambretan. Bagaimana tidak? Seandainya si istri tadi memakai jilbab, tentu saja kalung yang ada di lehernya tidak akan tampak, dan si penjambret pun tidak punya sasaran empuk.

Hmm… Mudah-mudahan kejadian ini bisa menjadi hikmah besar bagi para perempuan muslim pada khususnya. Bahwa menutup aurat itu sangat penting da wajib dilakukan. Dan agaknya saya tidak perlu berpanjang lebar menjelaskannya. Biarlah kita bertanya pada hati kita masing-masing.

*jilbabnya yang syar’i ya. Jangan yang funky :D

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Rabu, 09 Desember 2009

Bagai Sehelai Daun…

Assalamualaikum Yaa Ikhwana…


Bismillah…


Setelah sekian lama vacuum dari menulis, akhirnya hari ini saya masih diberikan kesempatan lagi oleh Allah untuk kembali menulis. Hmm… Rasanya senang sekali melalukan kegiatan menulis lagi setelah melalui cuti yang cukup panjang.


Mengapa harus cuti panjang? Itu dikarenakan saya mendapat rolling job yang mengharuskan untuk bekerja diluar kantor setiap harinya. Harus ke kantor-kantor lain untuk mengadakan survey, observasi, pendataan, dll. Hal ini dikarenakan staff bagian luar kantor sedang mutasi ke daerah lain. Jadinya nge-gantiin gitu deh ceritanya. Maka dari itu lah saya tidak bisa duduk manis bekerja di kantor sambil menulis posting. Hehe…


Hhmmh… Hidup memang penuh misteri. Hari ini kita berada disini, sedang berbincang dengan seseorang, tapi siapa yang bisa menebak tentang apa yang akan terjadi beberapa waktu mendatang? Semuanya adalah rahasia.


Layaknya sehelai daun yang tertiup angin. Tak tau akan melayang kemana dan akhirnya jatuh dimana. Terserah angin yang meniupnya. Dan angin pun tak pernah untuk ijin terlebih dahulu kepada daun sebelum meniup daun tersebut. Begitu pula yang terjadi dengan kita insan fana ini. Kita ibarat daun dan Allah lah anginnya. Kita ini seutuhnya dimiliki oleh Allah. Bahkan kita tidak memiliki apapun. Semuanya mutlak milik Allah ta’ala.


Menukil sebuah doa perlindungan yang kerap diucapkan oleh Rosulallahu alaihi wasalam : “Allahuma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ajzi wal kasal. Ya Allah.. aku berlindung kepadaMu dari kesedihan dan kedukaan. Dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan.”


Ikhwana… Rosul saja berdoa begitu, masa kita gak? :)

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Sabtu, 08 Agustus 2009

Perjalanan Panjang Pulkam :D

Bismillah…

Pertama-tama saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua teman-teman karena saya cuti nulisnya kelamaan. Hehe… Sebenernya disaat saya cuti, saya ada sesekali mampir ke warnet untuk ngecek email dan menjenguk blog, tapi gak sempet kalo buat nulis posting. Suatu ketika pas saya lagi baca pesan-pesan dari teman-teman di shout box, saya tersenyum sendiri. Karena ada salah seorang teman yang bilang gini, “Mbak, lama banget cutinya. Nikah ya?”. Dalam hati saya berkata, mohon doanya ya semoga cepet dikasih jodoh sama Allah. Ckckckck… kumat euy :D

Ok deh, saya mau berbagi sedikit cerita tentang perjalanan panjang saya. Gimana gak panjang? Bayangin aja, tiap pulkam saya harus menempuh perjalanan lebih dari 30 jam pulang pergi naik bus. Tapi alhamdulillahnya pulkam kali ini saya selalu dapat tempat duduk di bus bersebelahan dengan sesama perempuan. Jadi bisa lebih rileks cerita-cerita gitu, dibandingkan pulkam beberapa waktu yang lalu saya selalu dapat tempat duduk bersebelahan dengan cowok. Alhasil kikuk banget, gak enak banget rasanya. Jadinya sepanjang jalan ngemil aja mulu, abisnya bingung mo ngapain :D.

Kali ini ceritanya saya singkat-singkat aja ya, karena kalo ditulisin semuanya, sampe malam juga gak kelar nih nulisnya. Ckckck… Ok deh kita mulai. Perjalanan dari banjarmasin ke palangkaraya saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu setengah baya yang terlihat lelah karena sibuk membawa barang-barang belanjaan untuk persiapan acara khitan anaknya. Wuich.. bawaannya banyak banget.

Ditengah perjalanan ada seorang gadis cantik berjilbab hitam yang ikut naik di bus yang saya tumpangi. Senyumnya manis sekali. Begitu sempurna Allah menciptakannya. Setelah melalui percakapan singkat, saya baru tau kalo dia baru aja lulus SMA dan mau melanjutkan ke Akbid Muhamadiyah Banjarmasin. Sayangnya pas ikut tes gelombang pertama ternyata dia gagal, jadi dia mau balik dulu ke pangkalan bun sebelum mengikuti tes gelombang kedua pada awal agustus ini.

Setelah sampai di palangkaraya, semua penumpang bus diberi waktu untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke pangkalan bun dengan menggunakan bus yang berbeda dengan ukuran yang lebih besar. Saya pun segera menurunkan barang, ke toilet dan kemudian sholat. Setelah itu saya mengobrol dengan Ananta, gadis cantik tadi, seraya menunggu bus berangkat. Wah rupanya kali ini kami akan melanjutkan perjalanan dengan bus yang terpisah, dia menumpang bus executive class.

Tak berapa lama, bus pun melaju melanjutkan perjalanan ke pangkalan bun, hari sudah mulai sore kala itu, tapi sang mentari masih dengan gagahnya bersinar menembus kaca-kaca jendela bus dan menyilaukan pandangan. Tepat sekali waktu itu saya duduk di kursi paling depan. Oya, kali ini saya juga bersebelahan dengan seorang ibu setengah baya lagi. Sangat jelas terlihat dari raut wajahnya, ibu ini merupakan seorang wanita pekerja keras. Satu hal yang membuat saya sempat terbuai, ibu ini memakai parfum yang dulu sempat sangat saya kenal sekali aromanya. Entahlah siapa yang sering memakainya dulu. Rasanya saya tidak ingin dan tidak perlu mengingatnya. Tapi saya sangat familiar sekali dengan aroma ini. Saya hampir tidak percaya dengan penciuman saya, namun sayup-sayup aroma lembut itu semakin terasa jelas dan berasal dari arah ibu itu.

Lalu pandangan saya tertuju pada seorang ibu muda yang memakai baju tidur dan menggendong anaknya yang masih balita. Manis sekali anaknya. Setelah terlibat percakapan singkat, ibu itu mengungkapkan kepada saya bahwa sekarang ia tengah melarikan diri alias minggat dari suaminya karena ia dan anaknya merupakan korban KDRT seraya memerlihatkan bekas-bekas memar dan luka ditubuhnya akibat ulah suaminya. Astaghfirullahal azhim…

Jam tiga subuh saya tiba di pangkalan bun kota tercinta. Masih tercinta bagi saya walaupun mungkin penuh luka. Ada beberapa perubahan dengan kota ini. Jalan-jalannya serta pembangunan dibeberapa tempat. Ada beberapa pusat perbelanjaan baru. Trotoar baru dan tidak ketinggalan sebuah toko bakery baru, ya walaupun saya tidak sempat mampir kesitu. Hehe..

Pagi itu, saya mengunjungi rumah mempelai perempuan. Melihat-lihat persiapan mereka. Wah ternyata ribet banget, banyak yang harus disiapin. Terutama untuk mempersiapkan si pengantin perempuan. Harus dilulurin, sauna, dan perawatan lainnya yang sudah dimulai 1 bulan sebelum hari H. Jadi takut euy :D

Pulang dari situ, saya mampir kerumah keluarga sebentar untuk mengantarkan oleh-oleh, lalu mampir ke kantor tempat dulu saya bekerja. Surprised banget, karena hampir disetiap sudut ruangan, saya dapati wajah baru, dan hanya beberapa teman lama yang tetap bertahan bekerja disitu. Dalam hati saya bergumam, mungkin inilah saatnya pembaharuan. Hehe.. Dan alhamdulillah kehadiran saya masih disambut dan diterima baik disitu. Ngobrol-ngobrol, berkenalan dengan admin-admin baru, ketawa-ketiwi sambil becanda, sampai tiba saatnya saya pamit.

Setelah pamitan, saya mengirimkan pesan singkat pada salah seorang teman SMK dulu, untuk memintanya mengambil buku yang saya janjikan untuk meminjamkan padanya selama saya pulkam ini, dan tentunya harus dikembalikan sebelum saya kembali ke banjarmasin. Karena sudah masuk waktunya makan siang, maka kami pun mencari warung makan. Sebuah warung makan sederhana yang dulu sering saya kunjungi hampir tiap hari, yang letaknya dipinggiran jalan menuju pasar.

Setelah dhzuhuran, saya ditraktir minum es campur, wah rejeki nomplok nih. Ckckck… Hari pun sudah sore. Lalu saya diantarkan untuk mengunjungi makam ayah saya. Rumputnya lumayan banyak. Suasana di pemakaman sangat hening kala itu, karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat disitu, mengunjungi makam hanya pada hari jumat pagi. Selain itu bisa dibilang tidak ada, bila adapun hanya beberapa saja. Hening sekali. Rasanya saya ingin menangis kala itu. Mata saya berkaca-kaca ketika membaca doa. Hati saya sangat sakit. Saya merasakan kerinduan yang luar biasa pada ayah saya. Rasanya saya bisa melihat wajah ayah saya tersenyum mengetahui kedatangan saya. Saya sangat trenyuh. Ingin saya memeluknya. Namun sayangnya itu semua hanya sebatas impian saja.

Saya hampir lupa bahwa saat itu saya tidak bersendirian, tapi berdua dengan teman SMK saya itu. Setelah beberapa saat, saya berpamitan pada almarhum ayah, dan berjanji besok pagi akan kembali kesitu. Besok pado bertepatan dengan hari jum’at, pasti sangat ramai orang berziarah dan tak kalah ramainya orang yang berjualan bunga untuk ditaburkan diatas makam.

Sebelum adzan subuh berkumandang, saya sudah terjaga. Bersiap-siap mandi dan membersihkan diri, lalu menunggu adzan kemudian sholat. Setelah itu bersiap-siap mengunjungi ayah saya lagi. Rasanya saya sudah tidak sabar. Angkot yang mengantarkan saya pun akhirnya tiba di pinggiran jalan depan area pemakaman. Tak bisa saya lupa untuk membeli bunga-bunga merah -yang dulu selalu saya beli tiap jumat pagi- untuk taburan diatas makam ayah. Setelah mengedarkan pandangan ke beberapa pedagang bunga, akhirnya saya temukan seseorang yang saya cari. Dia adalah seorang nenek tua yang menjadi langganan saya membeli bunga tiap jumat, dulu ketika saya masih menetap di pangkalanbun.

Saya mengucap salam dan menyapanya, ternyata beliau agak lupa dengan saya. Maklum saja, sudah hampir 8 bulan saya tidak lagi pernah bertemu dengannya. Setelah saya jelaskan, kemudian beliau ingat dan menyalami saya seraya bertanya bagaimana kabar saya. Senyumnya masih terlihat ramah seperti dulu. Suaranya yang sudah terbata-bata termakan usia. Semuanya membuat saya tersenyum dan bersyukur, masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang membuat saya kagum ini. Alhamdulillahirabbil alamiin. Dan Alhamdulillahi jazakumullahu khoiron katsira untuk semua yang saya temui dan membuat saya kagum.

Setelah itu saya kembali mengunjungi keluarga mempelai perempuan, lalu saya diajak makan siang bersama. Ya Allah, terimakasih atas semua ini. Saya merasa sangat terharu dan trenyuh. Disaat banyak orang yang tidak mengharapkan kehadiran saya serta membuang saya, disaat yang sama rupanya masih ada orang-orang yang berkenan menjadikan saya bagian dari mereka, tersenyum dan bercengkerama bersama mereka. Mereka bagaikan keluarga baru bagi saya. Begitulah hidup. Keluarga menjadi orang lain dan orang lain menjadi keluarga. Bila jauh berbau harum namun bila dekat maka berbau busuk. Sebuah filsafat yang benar adanya. Ini jualah yang membuat saya berkali-kali menangis tersedu dikala sholat.

Tak ketinggalan dua orang kakak beradik yang sama-sama perempuan yang merupakan sepupu dari mempelai perempuan. Entah bagaimana awalnya, mereka lalu menjadi dekat dengan saya. Mereka itu desti(8) dan dewi(6). Sampai sempat suatu ketika saya duduk santai, mereka berdua menghampiri saya dan bertanya. “Kak, kenapa jilbab dan baju kakak panjang banget? Mamaku gak suka pake jilbab, katanya panas”. Hmm… Saya bingung mau jawab apa. Mungkin bila yang bertanya itu adalah seorang dewasa, saya akan lebih mudah memberikan jawaban dan penjelasan dari pertanyaannya. Dan saya pun belum pernah terpikir bila seorang anak belia yang akan menanyakan hal ini ke saya. Saya pun hanya bergumam lirih sambil tersenyum, bila saatnya tiba dan kalian telah dewasa, insya Allah kalian akan mengerti sendiri jawabannya.

Tibalah hari pernikahan sahabat saya itu. Akad nikahnya dimulai di awal pagi, sekitar jam 7 pagi. Dan semua acaranya dilangsungkan dirumah mempelai laki-laki. Diiringi dengan tabuhan rebana dan lantunan salawat nabi. Dan ketika proses akad nikah berlangsung, tanpa sadar saya meneteskan airmata. Saya menangis. Ada perasaan sedih dan bahagia yang bercampur didalam hati saya. Saya bahagia karena akhirnya sahabat saya itu telah menemukan pendamping hidupnya. Namun yang paling sedih adalah ketika prosesi perwalian oleh ayah mempelai perempuan, dan akad yang diucapkan oleh mempelai laki-laki. Seakan-akan saya merasakan, bagaimana bila nanti tiba waktunya saya. Tidak ada lagi seorang ayah yang akan menjadi wali saya pada hari pernikahan saya kelak. Mungkin itulah yang membuat saya sedih hingga mengalirkan airmata tak berhenti.

Malam setelah walimah itu adalah malam terakhir saya berada di pangkalan bun, karena besoknya saya sudah harus kembali ke banjarmasin. Sekali lagi saya merasa sangat berbahagia, keluarga besar pengantin perempuan mengajak saya berjalan-jalan keliling kota sembari melihat pemandangan dan lampu-lampu jalan yang bergemerlapan dimalam hari. Puncaknya kami singgah di bundaran pancasila. Memang benar, bila Allah berkehendak, maka tidak ada yang tidak mungkin. Tidak pernah terpikir oleh saya pulkam kali ini saya bisa berjalan-jalan ke bundaran pancasila. Malam itu tepat malam minggu, jadi suasana ditempat itu sangatlah ramai. Terakhir saya kesana adalah saat malam tahun baru tahun ini, itupun saya kesana berdua dengan pengantin perempuan. Kala itu sangat ramai sekali pesta kembang api disana. Malam itu jua terakhir kalinya saya melihat sosok sahabat saya yang dulu, walaupun ia tak menyadarinya. Karena saya pun tak sengaja melihatnya.

Selesai. Semua yang saya alami bagaikan skenario yang tak direncanakan. Itulah kekuasaan Allah. Sekarang tiba saatnya saya harus kembali ke banjarmasin. Kembali pada kehidupan yang baru setelah sempat sejenak menilik pada masa lalu.

Lelah sekali rasanya setelah melalui perjalanan yang sangat panjang. Dan setelah itu saya mendapat musibah. Kacamata saya pecah! Sore itu jatuh dikamar mandi setelah saya mandi menjelang maghrib. Saya sempat sedih juga. Tapi syukurnya framenya tidak patah. Segerea saya mengucap istirja. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Allahuma’jurni fi musibati wa akhlifli khoiron minha. Disetiap musibah, pasti ada pertolongan. Dan saya berdoa semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik. Amin.

Belum lagi setelah itu kembali saya mendapat musibah. Ba’da subuh saya berjalan-jalan disekitar rumah. Sengaja untuk melatih otot-otot kaki biar lebih rileks setelah perjalanan jauh. Tak beberapa lama berjalan, ada seorang tetangga yang sedang menggendong anaknya yang masih balita menghampiri saya. Beliau meminta tolong pada saya untuk mengantarkannya ke rumah seorang dokter untuk mengobati anaknya yang sedang sakit. Saya sedih sekali melihat keadaan anaknya. Bergegaslah saya mengeluarkan motor dan memanaskan mesinnya beberapa saat, kemudian bergegas mengantarkannya. Yang namanya musibah memang tidak bisa dihindari. Ketika memasuki gang menuju rumah sang dokter, saya mendapatkan kecelakaan. Saya terjatuh dan tertimpa motor. Rupanya jalanan disitu sedang ada perbaikan dan sama sekali belum selesai. Batu-batu kerikil yang agak besar dan dalam jumlah yang banyak menutupi jalan itu. Karena saat itu hari masih gelap, jadi saya tidak bisa melihat dengan jelas, lalu keseimbangan hilang, oleng dan jatuh.

Saya menyesal sekali tidak bisa memberikan yang terbaik untuk tetangga saya itu. Tapi alhamdulillah ibu dan anak itu tidak kenapa-kenapa. Karena begitu jatuh, mereka langsung melompat. Hanya saya yang tertimpa motor. Saya mengalami luka lumayan parah di kaki sebelah kiri, juga keseleo yang menyebabkan pergeseran sendi-sendi disekitar mata kaki sebelah kiri. Juga beberap luka, lecet dan memar disekitar lengan dan kaki. Berkali-kali saya meminta maaf kepada ibu itu atas kejadian ini. Saya sangat bersyukur karena mereka tidak menderita luka sama sekali. Cukuplah saya, fikirku. Kembali saya mengucap istirja.

Hal ini jualah yang membuat saya harus mengambil cuti lebih panjang dari seharusnya. Tapi sekarang keadaan saya sudah lebih membaik. Ketika duduk tahiyat pada sholat, sudah tidak terlalu nyeri. Tapi belum bisa sempurna. Alhamdulillah Allah masih memberikan kemudahan.

Hmm... Panjang banget ya tulisan kali ini. Kiranya sekian dulu laporan dari saya. Syukur-syukur bila sekiranya ada teman yang membaca tulisan ini hingga selesai dan memaafkan saya karena telah cuti terlalu lama. Insya Allah saya akan mengunjungi rumah-rumah persinggahan kalian semua setelah ini. Tapi sebetulnya saya sangat ingin mengambil cuti lagi selama bulan ramadhan, karena ingin fokus pada kegiatan ramadhan. Tapi entahlah, bagaimana Allah mengatur cerita ini selanjutnya saja. Karena sebaik-baiknya pengatur adalah Allah yang Maha Luhur.

Ya Allah... Berikanlah akhlak yang baik kepada kami semua. Amiin.

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Jumat, 17 Juli 2009

Cuti Menulis Sejenak Untuk Melihat Sebuah Senyum Indah :)


Sedih juga nih rasanya harus cuti sejenak dari menulis. Pasalnya saya harus pulkam untuk beberapa waktu. Dan rasanya sih tidak mungkin saya menulis pada saat pulkam itu. Soalnya acara pulkam kali ini dengan tujuan kondangan :D. Ga lucu kan ditengah-tengah acara saya ijin ke warnet mo nulis posting dulu. Ckckckck…

Yup… Insya Allah beberapa hari kedepan seorang cewek sahabat baik saya
-yang sekaligus saya anggap sebagai kakak saya- akan melaksanakan walimatul ursy. Wahh.. Ini merupakan kabar gembira bagi saya. Ketika pertama kali dia menyampaikan kabar ini ke saya pun, rasanya saya sangat-sangat bahagia. Sampe-sampe si ummi bilang gini, “Sebenernya yang mo nikah itu sapa sih? Kok yang seneng setengah mati malah kamu”. Ckckck... Jadi malu euy.. Ih si ummi mah suka gitu deh. Emangnya ga boleh ya ikutan seneng :P.

Eh tapi beneran deh. Rasanya udah ga sabar banget nih pengen ngeliat sang pengantin bersanding dipelaminan. Kalo udah ngebayangin gini nih, saya bisa senyum-senyum sendiri
-bukan berarti udah gila tau… ih jahat =P-. Rasanya baru kemaren aja nih kita berdua -saya dan sahabat saya itu- jalan-jalan keliling kota naek motor. Trus dia nginap dikamar saya. Cari dinner bareng. Shopping bareng. Hunting mp3 Muse bareng. Hunting lowongan kerja bareng. Sampe-sampe nyasar pun bareng juga =)). Eh tapi ke toilet ga bareng lho :D.

Nah maka dari itu sodara-sodara
-halah kayak kampanye aja- saya bela-belain untuk pulkam demi menghadiri hari paling berbahagia untuknya ini. Walaupun harus sampe berdarah-darah :D. Karena jarak yang memisahkan kami cukup lumayan jauh. Sekitar 15 jam perjalanan bila ditempuh pake bus. Soalnya mo naek pesawat ga cukup duitnya :D -semoga aja ada salah satu direktur perusahaan penerbangan yang baca tulisan ini n ngasih tiket gratis deh. Ckckck… mimpi kali yee…-. Alhasil harus menyiapkan mental deh untuk melakukan perjalanan yang sangat panjang ini. Demi melihat langsung sebuah senyum bahagianya. Ya Allah… Indah sekali rasanya :).

Andai aja saya ga harus hijrah kesini, tentunya saya ga akan terpisah sangat jauh dengannya. Ga terasa nih udah hampir tujuh bulan ga ngeliat dia. Hmm... Gimana ya dia sekarang? Tambah ndut kah atau makin kurus kah? Yang pastinya adalah, dia tambah bahagia. Ya, rasanya saya udah bisa membayangkan senyum bahagianya. Ya Allah… Ga sabar nih pengen buru-buru kesana. Kalo bisa terbang, pasti saat ini juga saya akan terbang deh kesana. Hahaha... ~ndri... ndri... sabar donk *_*~

Nah, yang bikin saya bingung tujuh belas keliling sekarang adalah, harus ngasih kado apanih buat dia? Kado yang special, bermanfaat, berkesan, dan tentunya ga akan pernah usang termakan masa
-tapi kalo bisa jangan mahal-mahal, soalnya stock di dompet udah menipis, hehe-. Ini nih yang bikin saya ga bisa tidur beberapa malam ni untuk memikirkannya -bo’ong, tidur kok- :D-. Tolongin saya donk sob… Please… Harus kasih apa nih? Hikzzz… Sampe detik ini belom ketemu ide juga. Padahal Awal minggu depan udah harus kesono. Tolongiiiinnn…. Bagi siapa yang dengan ikhlas hati ingin menolong saya, ntar saya doain masuk surga deh. Dimudahkan rejeki dan jodohnya. Diberikan akhlak dan kefahaman yang luhur. Semakin berbakti pada orang tua. Dan sukses dunia akhirat. Aminnn… Atas segala bantuannya saya haturkan jazakumullahu khoiro.

Satu lagi, saya minta maaf ya karena akan menghilang dari peredaran untuk sementara waktu. Maaf juga bagi semua teman yang udah berkunjung kesini tapi belom bisa saya kunjungi balik karena masalah waktu dan keadaan yang tidak memungkinkan. Serta koneksi internet yang akhir-akhir ini semakin dudulz :D. Tapi insya Allah nanti selepas saya kembali, saya akan mengunjungi kalian semua. Maaf juga untuk salah seorang sobat yang memberikan award ke saya, tapi belum bisa saya ambil. Karena kemaren pas mau ambil awardnya, loading pagenya gagal mulu. Koneksi internet memang sedang tidak bersahabat dengan saya. Beberapa waktu ini kami terlibat masalah yang tak berkesudahan. Ckckck… Tapi ntar insya Allah tetap saya ambil kok. Makasih ya semua. Mohon doanya. Semoga kita bisa berjumpa kembali pada episode berikutnya :D. Amin. 

Eh jangan lupa tolongin yang tadi ya... Pleasee.. :)

*apa saya harus menyanyikan lagu kesukaannya “Muse – Sing for Absolution”? Oh no. Its so bad idea. I cant singing. Coz if I sing, storm will come. Hahaha… Seharusnya dia yang menyanyikan "Butterflies n Hurricane" untuk saya. Anything else??? Please help me :(

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Rabu, 15 Juli 2009

Gubuk Milik Sendiri Itu Lebih Indah...

Bismillah.

Kali ini kita akan sedikit membahas sedikit tentang sikap yang berusaha menilai dan menerima secara jujur atas hasil yang diperoleh, dan penghargaan pada hasil karya sendiri. Tapi bukan berarti tidak menghargai hasil karya orang lain.

Tak bisa dipungkiri, kadang kita selalu terpana dan terkesima melihat segala sesuatu yang indah dan elok. Lalu diam-diam kita mulai berkata dalam hati sambil tersenyum, “Alangkah indahnya ini. Siapakah yang telah membuatnya? Saya kagum sekali kepada pembuatnya”.

Ya tak masalah bila keterpanaan itu membawa dampak positif bagi kita. Misalnya semakin menyulut semangat kita untuk bisa berkarya lebih bagus lagi. Tapi kadang, saking terlena dan terpananya, membuat kita lupa akan hasil karya diri kita sendiri. Lupa untuk menghargainya. Lupa untuk mensyukurinya. Jangan sampai waktu pun ikut habis untuk sebuah keterpanaan ini. Lalu kapan waktu untuk kita berkarya?

Sebagus-bagusnya sebuah karya, tapi bila itu karya orang lain, adakah ia membawa kebanggaan di dalam dasar hati kita? Seindah-indahnya sebuah istana, tapi bila itu bukan milik kita, apakah bisa ia memberikan keteduhan bagi diri kita dikala kita membutuhkan? Hanya bisa kita pandang dan kagumi dari jauh. Dan bermimpi semoga suatu hari bisa membuat istana seindah milik orang itu. Semoga saja terkabul. Aminin donk sob :D. Aminnn...

Teringat pada sebuah tawaran dari salah seorang sobat blogger yang jauh lebih senior dari saya. Sengaja tidak saya sebutkan nama dan linknya disini agar tidak menimbulkan masalah atau kesalahfahaman. Dan saya memberanikan menulis tentang ini, karena saya yakin dia tidak akan membaca tulisan ini. Suatu hari dia menawarkan jasa ke saya. Dia bilang begini, “Kak, mau gak kalo blognya saya permak habis semuanya? Biar kelihatan lebih professional gitu”. Saya berfikir, ni orang baik banget ya sampe mau-maunya nge-benerin blog saya yang kacau balau dan sangat tidak menarik ini. Sekilas tawaran ini kedengarannya sangat menarik. Siapa sih yang gak mau blognya dipermak orang lain yang udah senior, dan dijadikan agar tampak lebih professional dan menarik? Tanpa biaya pula. Ada yang mau??? Hehehe…

Saya terdiam sesaat sebelum menjawab tawarannya. Saya memikirkan kata-kata penolakan yang bagus agar tidak terkesan kasar dan tidak menghargai tawarannya. Huff.. Akhirnya dapat juga kalimat yang tepat. “Maaf ya sob, saya bukannya gak mau blog saya dibikin lebih professional oleh kamu, tapi saya takut aja, setelah blog ini nanti selesai dipermak sampe sedemikian rupa hingga hasilnya bagus banget, e saya malah gak kenal lagi deh sama blog saya sendiri, gawat donk :D. Kalo udah gitu, kemana saya harus melangkahkan kaki untuk berteduh? Hehehe.. ”. Dan alhamdulillah dia mengerti dan tidak merasa tersinggung atas penolakan tersebut. Dia pun malah balik membalas berkelakar. Syukurlah… Karena sejujurnya, memang kesederhanaan itulah yang menjadi tema dari blog ini. Dan saya sangat menghargai hasil karya saya sendiri, walaupun itu sangat jauh dari kata “bagus”. Tapi bila blog ini jadi dipermak, masih bisakah saya membanggakannya dengan mengaku ini semua adalah hasil karya saya? Tidak. Sama sekali tidak. Karena yang berdiri dibelakang pembuatan blog ini bukan lagi saya, melainkan orang lain. Alih-alih saya malah akan selalu merasa sedih bila melihat blog ini yang sama sekali asing bagi saya karena bukan tangan saya sendiri yang membuatnya.

Begitu juga saat kita semua masih bersekolah dulu. Ketika tiba saatnya ulangan harian atau ujian nasional, bisakah kita membanggakan nilai tinggi yang kita dapatkan, bila dibalik itu semua kita mendapatkannya dengan cara meniru, mencontek, bahkan memaksa teman kita sendiri untuk memberikan jawabannya kepada kita? Bila begitu, berarti sudah berubah pergertian dari sekolah yang awalnya adalah “tempat mencari ilmu” dan kemudian menjadi “tempat mencari nilai”. Semoga kita semua tidak termasuk orang-orang yang merugi.

Maka sebaik-baiknya perolehan atau hasil, adalah yang didapat melalui suatu proses yang bernama kerja keras dan usaha dari diri kita sendiri. Apapun itu hasilnya, tentu kita akan sangat merasa bangga. Percayalah. Tanyakanlah semuanya pada hati nurani kita yang sangat jujur. Dan jangan bohongi diri sendiri dengan berpura-pura bangga akan hasil sempurna namun yang merupakan hasil rebutan atau rampasan dari hak orang lain.

Ya. Gubuk reot sekalipun akan terasa lebih indah
-bila itu adalah milik kita sendiri dan didapat dari hasil kerja keras kita- daripada sebuah istana hasil rampasan dari orang lain, ataupun yang didapat dengan cara yang tidak benar. Oleh karena itu, marilah kita mencoba untuk menghargai diri sendiri terlebih dahulu. Dengan begitu kita akan sangat mengerti apa artinya kerja keras, dan kita akan semakin menghargai kerja keras orang lain. Dan bila semua orang di dunia ini mengerti dan sadar akan hal itu, insya Allah tidak ada lagi yang namanya perampasan, perebutan, bahkan penjiplakan, dan masih banyak lagi hal buruk lainnya yang bisa kita minimalisir.

Mohon dimaafkan bila ada salah kata dan ucapan dalam tulisan kali ini. Semua kesempurnaan hanyalah milik Allah ta’ala.

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Kamis, 09 Juli 2009

No idea. No word. But I still write… Don't know why


Hari ini hari kesepuluh dalam bulan ini. Bulan ketujuh dalam tahun ini. Apa yang akan terjadi hari ini? Entahlah… Semoga saja hal yang baik dan membawa keberkahanlah yang akan terjadi pada hari ini. Amin. Bukankah kita harus selalu ber-husnudzhon billah? :)

No idea. No word. But still write. Ya. Hari ini tidak ada kata yang terucap. Tidak ada ide yang seperti biasa saya tuangkan dalam tulisan. Tapi saya masih tetap saja menulis. Entah apa yang akan saya tulis selepas ini.

Tak terasa waktu kian berlalu mengitari kehidupan ini. Tak tau harus berkata apa di pagi buta ini. Tapi, hanya sedikit lisan yang masih terbersit di benak saya. Dan hanya sedikit lisan itulah yang bisa saya katakan hari ini. Tahniah. Tahniah for my self. Tahniah kerana tepat hari ini waktumu didunia ini berkurang lagi.

Terangkai berbagai doa dan salam sejahtera dari beberapa insan yang telah mendahului saya mengucapkan tahniah untuk diri saya. Kata selamat hari jadi pun terlontar dari keluarga kecil saya. Namun saya tak tau harus bagaimana. Mungkin yang pertama kali adalah harus bersenang. Kerana masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menghirup udara dunia ini sampai hari ini. Masih diberi segala nikmat dan rahmat kehidupan. Dan bersyukur atas sejuta keberkahan yang didatangkanNya pada kehidupan saya sekeluarga.

Selanjutnya mungkin patutlah bagi saya untuk bertanya pada diri sendiri. Telahkah saya melalukan sesuatu yang berguna bagi orang lain? Yang dapat mendatangkan secercah kebaikan bagi orang lain? Perih rasanya bila dalam segenap usia ini belum ada manfaat yang saya tebarkan bagi orang lain.

Firstly, saya ingin mengucapkan syukur alhamdulillah pada Allah atas semua keberlakuanNya pada kehidupan saya ini. Then, jazakumullahu khoir katsira for my parent. Ibu dan almarhum ayah yang sangat saya sayangi. Dua insan yang luar biasa. Smoga Allah meninggikan derajat keduanya. Then, jazakumullaku khoir katsira untuk sodara-sodara saya yang dengan lapang dada telah menerima segala kekerasan fikir, sikap serta silaf saya. Yang kesemua itu tak lah saya maksudkan untuk kepelikan, hanyalah demi kemaslahatan kita bersama. Dan selanjutnya namun tak kalah penting, I want to say thank you so much n very much to all of you. All of my friend anywhere. Jazakumullahu khoir katsira untuk teman-teman, sobat-sobat, sahabat-sahabat, dan siapapun yang menganggap saya sebagai teman. Jazakumullah atas semua doa, dukungan, kritik dan saran, pelajaran, ilmu dan semuanya.

Dan akhirnya saya hanya dapat mengucap kata maaf yang sebesar-besarnya kepada semua yang bila merasa pernah atau telah saya sakiti. Mohon maaf bila ada keliru dan silaf kata serta sikap dari saya. Kerana kata maaf dari antum semua akan melapangkan hati dan dada saya saat ini. Dan bila nafaspun terjemput kala ini, insya Allah akan dapat lebih tenang
-tapi kalo bisa jangan dulu :D-. Sekian sekelumit coretan di pagi buta ini. Semoga lain waktu kita masih dapat bersua walau hanya lewat tulisan :).

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Pengalaman Pertama Euy :D

Hm… Gimana ya? Susah diungkapkan dengan kata-kata nih. Ckckckck =)). Mungkin bagi orang lain, ini merupakan suatu hal yang biasa dan sangat biasa. Tapi bagi saya, ini sungguh amat sangat luarrr biasa :D. Pasalnya ini adalah pengalaman pertama saya. Setelah melalui proses yang sangat panjang dan melelahkan. Yaitu pengejaran kepada sang target. Targetnya kali ini adalah Pak RT. Mau tau apa??? Jengg... jengg... jeng... Men-con-treng =)). Secara ni ya, kemaren pas pemilu legislatif saya ga bisa ikutan karena ga dapat surat panggilan dari RT, katanya sih karena saya masih terbilang penduduk baru di kalsel ini. Ya udahlah gak papa. Tapi kali ini saya gak akan ngebiarin hak pilih saya hilang gitu aja. Secara, ini kan pemilu capres dan cawapres gitu lho. Makanya nih, bela-belain ngejar pak RT kesana-kemari sampe ngos-ngosan demi sebuah surat panggilan. Sampe-sampe Pak RTnya gemetaran, maklum udah tua sob. Hahaha...

Kalo mencontreng pilihan jawaban mana yang bener pas lagi ujian/ulangan di sekolah dulu sih udah sering. Tapi kali ini yang dicontreng adalah pilihan yang akan menentukan siapa pemimpin bangsa ini kelak. Yup. Pemilu Capres dan Cawapres. Bangga banget euy bisa ikutan pesta demokrasi ini. Brasa gimana gitu. Ya maklum aja lah, usia baru mengijinkan saya untuk bisa ikutan pemilu untuk yang pertama kalinya pada tahun ini
-kemaren-kemaren masih lom boleh, masih kecil, sekarang udah gede euy :D-. Dibilang katro juga gak papa. Yang penting udah nyontreng. Wkwkwkwk *narsis mode on : =))*

Saking semangatnya buat ikutan pemilu nih, sampe-sampe nyari TPSnya kelewatan. Udah gitu pas sampe di TPSnya, udah kayak orang paling o’on aja. Abisnya gak tau langkah pertama musti ngapain dulu. E rupanya musti laporan dulu, trus ngasih kartu panggilan pemilunya, trus baru deh dapat blangko buat nyontrengnya. Rupanya hal membingungkan belom sampe situ aja, pas udah selesai nyontreng e malah gak tau tu kertas hasil contrengan mau diapain
-maunya sih mau dikantongin trus dibawa pulang trus dipajang gitu dikamar, buat kenang-kenangan pertama kalinya nyontreng pas pemilu wkwkwk-. Pake belaga gak tau apa-apa, saya udah maen mo pergi aja gitu, mo pulang ceritanya. Trus dipanggilin deh oleh para panitia di TPSnya, pake ditanyain gini segala, “neng, kertas hasil contrengannya mo dikemanain? mo dibawa pulang ya? ga boleh neng. sini gih masukin ke kotak pemungutan suara ini”. Asli dah malu banget saya. Hahaha… Udah kayak orang puncak gunung aja yang belom pernah ke kota sama sekali. Lagian kenapa juga sih tu kotak letaknya nyelempit-nyelempit di pojok sono, jadinya kan ga kliatan :D.

Udah gitu, si penjaga meja tinta manggil saya juga, nyuruh saya nyelupin jari kelingking kiri kedalam botol tintanya sebagai tanda bahwa udah nyontreng. Dengan perasaan yang tadinya semangat tapi udah bercampur kesel karna malu abis, jadinya nyelupin jarinya kelewatan deh. Alhasil, jari kelingking saya penuh dengan tinta. Kalo orang lain tintanya hanya diujung jari aja, nah kalo saya mah hampir setengah jari. Hahaha… Lucu banget deh pokoknya. Para panitia senyum-senyum aja tuh ngeliatin saya. Dalam hati saya berpikir gini, biarin aja deh banyakan dikit tintanya, biar sekalian gitu, kan 5 taun sekali. Hahaha.. Belom ilang juga rupanya narsisnya disaat-saat seperti ini.

Abisnya dulu pas masih sekolah SMK, saya diolok-olok tuh ma temen sekelas. Karena pas jadwalnya pemilu, mereka semua udah pada sampe umurnya, jadi udah pada bisa ikutan pemilu. Nah saya, masih jauhhhh bgt umurnya. Ih kesel banget waktu itu pas diolokin. Dibilangin anak kecil lah, masih bau kencur lah, ah sebel banget deh. Apalagi pas temen-temen nunjukin jari kelingkingnya yang ada tintanya, pertanda mereka udah abis nyontreng, sambil mengolok-ngolok saya. Ih geram banget rasanya. Penget ku gigit deh sekalian tu jari. Hahaha…

Tapi sekarang, udah ga lagi. Kalo bisa ni ya, rasanya sekarang saya mau ketemuan sama temen-temen sekolah dulu, trus saya tunjukin deh ni jari kelingking saya yang ada tintanya sampe banyak banget. Trus sambil nge-bangga-in diri deh di depan mereka. Hahaha... Tapi sayangnya sekarang mereka udah pada jauh-jauh. Ya udahlah, mendingan ni jari di foto aja trus ditunjukin ke mereka ntar pas ketemu, sebagai bukti gitu kalo saya sekarang juga udah bisa dibilang gede kayak mereka. Hahaha.. Gokil abizzz...

Udahan dulu ya. Karna mo nyiapin event besar nih. Besok aja posting lagi. Tunggu ya :)

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Senin, 06 Juli 2009

Berbohong Demi Kebaikan? Benarkah?


Pada saat kita melakukan suatu kebohongan atau beberapa kebohongan dalam keadaan terpaksa atau dipaksa, kadang hal ini akan membuat kita bertanya-tanya, “ini dosa ga sih?”.

Seorang ibu berkata pada anaknya yang masih kecil, “adek ga boleh bo’ong ya, bo’ong itu dosa lho, ntar bisa masuk neraka”. Si anak kecil hanya manggut-manggut ga jelas -soalnya masih terlalu kecil untuk mengerti arti dari perkataan mamanya-. Tapi anehnya, perkataan seperti itu -yang ibu katakan pada anaknya tadi- lebih sering kita jumpai diucapkan atau dilontarkan pada anak kecil, sedangkan pada orang dewasa hampir jarang sekali dijumpai. Pertanyaannya adalah, apakah orang dewasa sudah tidak pernah melakukan kebohongan lagi? Atau ….? (bila berminat, silahkan isi titik-titik pada kotak komentar sesuai dengan pemikiran masing-masing)

Ada lagi nih pernyataan yang kadang-kadang bisa disalah-artikan oleh orang-orang yang suka menyalah-artikan
-halah...dibolak balik nih, abis bingung ga tau sebutannya apaan :D-. Berbohong demi kebaikan. Itu yang gimana sih? Batasannya sampe mana sih? Ada yang bisa memberikan penjelasan detail ke saya?

Berbohong demi kebaikan. Tidak jarang kita temukan istilah ini, bahkan bisa dikatakan sangat sering. Saya pun sering menemukan teman-teman yang berkata seperti itu di tempat saya bekerja yang lama. Karena ada salah satu teman yang pekerjaannya setiap hari adalah diharuskan untuk mengolah data sedemikian rupa sehingga bisa menguntungkan bagi pihak perusahaan. Walaupun mungkin data inputan itu sebenarnya tidak ada, tapi ya dikarang-karang aja. Dengan tujuan untuk mengharumkan nama perusahaan atau agar perusahaan yang besangkutan dipandang wahhh oleh pihak tertentu. Atau untuk pengajuan suatu proposal atau pen-donatur-an. Atau malah perusahaan itu sendiri sebenarnya terpaksa melakukan manipulasi ini karena keharusan dalam pencapaian suatu target yang telah ditetapkan dan ditentukan oleh para donatur ataupun rekan jawatan perusahaan? Entahlah... Yang pasti, jawaban atau alasannya tidak jauh-jauh dari alasan yang saya kemukakan diatas.

Dan sekarang, kayaknya saya juga diharuskan untuk melakukan seperti apa yang dilakukan temen saya tadi tersebut diatas. Ga banyak sih, hanya satu bendel data aja. Untuk persyaratan pengajuan pembukaan rekening giro, credit card dan transaksi perbankan lainnya. Ya mungkin yang berbeda antara saya dan teman saya itu hanyalah terletak pada skalanya. Dia besar dan saya kecil
-apakah satu bendel data bisa dibilang berskala kecil? au ah…-. Tapi besar atau kecil, tetap saja ini merupakan suatu kebohongan. Saya pun agak ragu untuk mengatakan seperti yang dikatakan teman saya itu. Berbohong demi kebaikan. Rasanya saya tidak sanggup untuk mengatakan itu. Benarkah ini demi kebaikan? Kebaikan siapa? -tentu saja bukan untuk kebaikan saya ckckck :D-
Fyuhh… Bagi sobat yang pernah atau bahkan sedang berada dalam posisi saya, pasti hanya bisa mengambil nafas panjang dan mencoba berserah. Bagaimana tidak? Secara posisi kita adalah karyawan yang merupakan bawahan yang harus tunduk pada perintah atasan seputar pekerjaan kantor. Jika tidak maka akan terjadi pembantaian di dunia pekerjaan (baca:pemecatan). Pernah juga sih terpikir untuk membantah. Tapi efeknya itu lho. Bila hanya saya sih yang merasakannya gak papa, tapi keluarga saya juga harus merasakannya. Nah gimana tuh? Alhasil, bertahan dulu deh. Minimal mpe dapat job di tempat lain yang bener-bener anti per-manipulasi-an. Tapi apakah tempat kerja seperti itu ada? Wallahu’alam. Karena bila saya bicarakan mengenai masalah ini ke temen-temen saya, mereka selalu bilang kalau hal ini lumrah terjadi di dunia kerja. Whatsss? Benarkah suatu kebohongan akan menjadi suatu ke-lumrah-an pada masa yang akan datang? Untung saja manusia tidak seperti tokoh cartoon pinokio yang hidungnya akan memanjang tiap kali berbohong. Kalo iya, ga kebayang tuh seberapa panjang hidung kita sekarang. Ckckckck :D.

*semoga Allah memberi pencerahan kepada kita semua dalam hal ini, agar tidak menjadikan ‘berbohong demi kebaikan’ sebagai tameng untuk melakukan kebohongan yang sebenarnya. Amin.

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Abis sakit, e malah dapat award…:)

Ga terasa udah lumayan lama nih saya ga nulis artikel-artikel baru. Soalnya belakangan saya lagi dapat banyak tugas kantor dari si boss, udah gitu saya sempat diserang virus jahat yang bernama in-flu-en-za. Virus yang sangat mengerikan sampai-sampai memaksa kita untuk ber-hachi-hachi (baca:bersin) tanpa bisa kita tolak.

Alhasil, kepala terasa pusing tiga keliling, idung mulai memerah, jidat mulai memanas, mata mulai berkedip-kedip (bukan karena genit, tapi akibat dari alerginya :D), dan stock tissue mulai menipis. Duh ga kebayang deh. Tapi tenang, sekarang udah kembali kepada keadaan normal, jadi ga usah khawatir bakalan saya tularin ke soba-sobat semua. Hehe..

Setelah sekian lama ga nge-cek kondisi blog saya, buru-buru deh ke shout box area. Tak disangka tak diduga tak dikira saya dapet award lagi euy…!!! Senengnya… Mana awardnya ga hanya satu lho. Langsung aja yuk!

Ini dia award pertama yang sama yang diberi dari dua orang sobat blogger saya yang berbeda yaitu dari Sobat Senior Lora Amir Husein dan Sobat Senior Rachmat. Tttaaarrraaa….:)

Dan award ini saya bagikan kepada :
1. Patahati
2. Masbahak
3. The Rain Prince
4. Face_chan
5. Es campur
6. MotoGP Lovers
7. Ayu
8. Pawewet
9. Nur Kholiq
10. Ria Adria

Cara membagikan award ini adalah :
1. Buat posting yang menampilkan gambar award ini
2. Cantumkan link pemberi award
3. Bagikan award kepada 10 teman dan cantumkan link mereka, kemudian beritahukan kepada mereka bahwa mereka mendapat award dari Anda.

Seeppp… Lanjut pada award yang kedua ya. Kali ini saya dapat award dari Sobat Ferdi Fauzan. Tanpa berbasa basi -yang basi banget :D- langsung aja kita liat awardnya. Saya suka sekali award ini karena saya suka sekali tokoh Conan Edogawa. Hehehe :r . Ini dia awardnya...

PR yang pertama adalah kalian harus membagikan award ini kepada sepuluh teman kalian. Terserah siapa saja orangnya. Asalkan dia punya blog. Dan PR yang kedua khusus dari yang ngasih award ini ke saya, kalian harus meletakkan link-link berikut ini di blog atau artikel kamu :

1. Facebook
2. Friendster
3. Google
4. Robby Hakim
5. AeArc
6. Surya Tips
7. Antaresa Mayuda
8. Rangga
9. Ferdi Fauzan
10. Yuliani89

Tapi ingat, sebelum kamu meletakkan link diatas, kamu harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. Sehingga semua peserta naik 1 level. Yang tadi nomor 2 jadi nomor 1, nomor 3 jadi 2, dst. Kemudian masukkan link kamu sendiri di bagian paling bawah (nomor 10). Tapi ingat ya, kalian semua harus fair dalam menjalankannya. Jika tiap penerima award mampu memberikan award ini kepada 5 orang saja dan mereka semua mengerjakannya , maka jumlah backlink yang akan didapat adalah

Ketika posisi kamu 10, jumlah backlink = 1
Posisi 9, jml backlink = 5
Posisi 8, jml backlink = 25
Posisi 7, jml backlink = 125
Posisi 6, jml backlink = 625
Posisi 5, jml backlink = 3,125
Posisi 4, jml backlink = 15,625
Posisi 3, jml backlink = 78,125
Posisi 2, jml backlink = 390,625
Posisi 1, jml backlink = 1,953,125

Dan semuanya menggunakan kata kunci yang kamu inginkan. Dari sisi SEO kamu sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline kamu mengklik link itu, kamu juga mendapatkan traffik tambahan.

Nah, silahkan copy paste saja PR yang kedua ini, dan hilangkan peserta nomor 1 lalu tambahkan link blog/website kamu di posisi 10. Ingat, kamu harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal. Karena jika kamu tiba2 di posisi 1, maka link kamu akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10.

Dan yg dpt award dan PR ini adalah...
1. Denny Sitorus
2. Goceng
3. Hafizu’s
4. Hakiem
5. Heqris
6. Irien
7. Kacong
8. Kirana19
9. Sutrisno
10. Tirta Maharani

Nah, udah kelar nih tugas saya. Sekarang waktunya buat istirahat dulu biar cepet sembuh. Hehe... O iya hampir lupa, saya ucapkan selamat bagi semua sobat blogger yang dapat awardnya. Tetap semangat ya sob...:)

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Senin, 29 Juni 2009

Rehat Sejenak Melepas Lelah

Kalo dipikir-pikir, ternyata lelah juga ya bekerja selama enam hari dalam satu minggu. Apalagi mereka yang harus bekerja tiap hari dari pagi hingga pagi lagi, tanpa mengenal istirahat untuk melepas kelelahan, itupun dengan hasil yang belum tentu menggembirakan. Wah, ternyata saya masih jauh lebih beruntung karena masih punya waktu untuk rehat.

Kali ini saya melepas lelah dengan berkeliling kota banjarbaru-martapura
-ga hanya keliling sih, tapi sekalian ngantar si ibu ke pasar :$-. Hari minggu ini jalanan kota sangat ramai sekali bahkan sangat sesak oleh berbagai jenis kendaraan. Saya pun sempat mengalami kemacetan ketika akan melintas di sebuah lampu merah. Belum lagi terik matahari yang serasa tidak bersahabat siang ini. Asap kendaraan. Debu jalanan. Polusi dari truk-truk batu bara. Tidak ketinggalan bunyi klakson yang bersahut-sahutan dari beberapa mobil di belakang kami, karena tidak sabar menunggu antrian lampu merah yang sangat panjang.

Huff… Akhirnya lampu hijau juga nih, lirihku. Dengan bergegas kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pasar martapura yang terkenal dengan took-toko berbagai macam perhiasannya itu
-sempat-sempatnya promosi :D-. Setelah beberapa waktu berjalan mengitari pasar, akhirnya ketemu juga barang-barang yang dicari si ibu. Hari libur ini keadaan pasar sangat amat ramai pengunjung. Ibaratnya semua manusia pada hari ini keluar dari tempat persembunyiannya untuk sejenak berlibur dan bersenang-senang. Saya jadi teringat ketika menonton sebuah sinetron yang mengambil lokasi syuting di  taman di depan pasar ini. Indah juga ya taman itu kalo diperhatikan :).

Canda tawa dari pengunjung pasar serasa bersahut-sahutan. Begitu juga transaksi tawar-menawar antara calon pembeli dan pedagang pakaian di sepanjang lorong pasar yang kami lewati. Selayang pandang kami memperhatikan beberapa pedagang kain dan pakaian jadi yang sibuk merapikan susunan barang dagangannya. Ada yang sedikit berbeda dari mereka. Ohhh... Ternyata setelah memperhatikan dengan seksama, rupanya pedagang ini adalah keturunan dari bangsa Arab dan beberapa diantaranya dari bangsa India. Pantas saja agak berbeda fikirku. Lalu muncul pertanyaan yang mengusik benakku saat itu, “adakah orang pribumi indonesia yang melakukan hal sama seperti mereka di negara mereka (Arab dan India)?”. Dan jawaban pun seketika melintas dari diri saya sendiri, “tentu saja ada, bila Allah berkenan”. Saya pun tersenyum.

Wahhh... Nyaman sekali rasanya bisa berehat melepas lelah dengan berjalan-jalan bersama keluarga. Walaupun tak harus pergi ke tempat yang mahal, tak harus membeli sesuatu yang mahal, tak harus memakai sesuatu yang mahal. Namun rasa nyaman itu tak akan pernah bisa terbayar sekedar dengan sesuatu yang mahal. Hanya rasa syukur yang bisa membuat kita merasakan kepuasaan. Bukan perasaan selalu berkekurangan. Ya, sekali lagi saya bersyukur masih diberikan kesempatan dan waktu untuk berehat, tak harus bekerja setiap saat.

Memang benar kata orang tua. Bila urusan dunia, maka lihatlah ke bawah, dan bila urusan akhirat maka lihatlah ke atas
-jangan dibolak-balik lho ya :D-. Karena bila menyangkut urusan dunia ini kita malah selalu melihat ke atas, mungkin kita akan menjadi orang yang merugi dan sangat sukar untuk bersyukur. Tidak diragukan lagi, memang demikian adanya. Dan akhirnya yang menjadi korban atas kesalahan dalam pemahaman ini adalah diri kita sendiri. Karena terus menerus dituntut untuk memiliki dan mendapatkan -hal ihwal keduniaan- yang lebih dan lebih lagi.

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Rabu, 24 Juni 2009

Beradab? Atau Berilmu?

Satu kenyataan yang kadang terlupakan oleh insan. Ternyata beradab itu adalah lebih tinggi daripada berilmu. Kebanyakan manusia berusaha mencari dan terus mencari ilmu setinggi-tingginya, namun malangnya banyak diantara mereka yang lupa akan pembelajaran adab.

Dengan ilmu yang tinggi, belum tentu seorang manusia bisa dikatakan sebagai insan yang mulia. Tapi bila seseorang sudah beradab, maka insya Allah orang tersebut akan menjadi insan yang mulia dan luhur dimata sesama manusia bahkan dimata Allah. Insya Allah. Dan akan menjadi sangat lebih baik lagi bila dapat memiliki keduanya sekaligus -beradab dan berilmu-. Dengan begitu pemahamannya akan ilmu menjadi semakin terarah dan insya Allah akan terhindar dari per-budak-an ilmu, dimana seseorang yang memiliki ilmu tinggi tapi ia malah dikuasai atau bahkan dikendalikan oleh ilmu tersebut.

Mengapa banyak terjadi disekitar kita, orang yang berilmu tinggi namun terkadang praktek dalam keseharian hidupnya tidak mencerminkan bahwa ia berilmu tinggi? Misalnya dengan memandang rendah orang lain, menyepelekan kehadiran orang lain, bahkan menganggap dirinya lah yang paling pintar dan berilmu, dan sedikit ke-congkak-an yang tersamar yaitu dengan berat hati bila ada seseorang yang datang padanya untuk menimba sedikit ilmu. Semua ini tidak mustahil terjadi karena kurangnya adab tadi. Karena manusia yang beradab senantiasa menjaga segala sikap dan tindak tanduknya agar jangan sampai sedikitpun meninggalkan kesan merugikan atau bahkan sampai menyakiti orang lain. Betapa luhurnya bukan sifat beradab ini?

Ini juga mungkin akan menjadi salah satu faktor yang harus menjadi pertimbangan kita dalam memilih ilmu untuk dipelajari. Seperti kata pepatah, salah perencanaan maka akan gagal lah semuanya. Lalu bagaimana? Ilmu duniakah atau ilmu akhiratkah? Jawabannya adalah, seimbangkanlah antara keduanya. Bukankah tujuan kita hidup ini adalah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat?

Ilmu adab ini mungkin juga pernah kita pelajari di sekolah ataupun tempat menuntut ilmu lainnya, namun porsinya tidak akan lebih banyak dari mata pelajaran matematika, bahasa indonesia, ilmu pengetahuan alam, dsb. Lalu dimana kita akan mendapatkannya dalam porsi yang lebih? Pertama mungkin dari orang tua, bila yang ini tidak memungkinkan, maka cobalah belajar dan teladani cara hidup orang-orang bijak. Dan yang terutama adalah Rasulallah. Dan bisa juga kita dapatkan dari sekitar kita. Para orang tua yang bijak dan banyak lagi. Seperti sebuah kalimat yang pernah saya baca, belajarlah dari pengalaman orang lain karena kita tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk mengalami semuanya sendiri.

Semoga saja kita terlebih dahulu menjadi orang yang beradab baru setelah itu kita menuntut ilmu yg setinggi-tingginya. Jadi kita tak khawatir lagi diri kita akan dijajah oleh ilmu yang kelak kita miliki. Semoga kita memiliki keduanya. Adab dan ilmu. Amin :)

* merupakan satu pelajaran baru yang saya dapat beberapa hari ini. Semoga Allah membukakan pintu hatinya agar menjadi manusia berilmu yang lebih beradab dan bisa kembali menghargai orang lain. Amin.

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Senin, 22 Juni 2009

Ternyata Begitu Sulitnya…

Terkadang hal ini bisa membuat saya tersenyum sendiri. Begaimana tidak? Beberapa waktu yang lalu, salah seorang akhwat teman saya bercerita pada saya seputar penantian akan datangnya seorang jodoh yang akan dikirim Allah untuk semua umat, terutama dirinya. Setelah melewati obrolan yang cukup panjang, akhirnya dia meminta tolong ke saya. Dan hal ini lah yang membuat saya agak sedikit -ah tidak hanya sedikit, sangat banyak malah :D- aneh dan merasa tidak percaya. Bagaimana mungkin dia minta tolong ke saya?

Dia meminta tolong ke saya agar membantunya dalam mencarikan seorang jodoh untuk dirinya. Ya Allah… Begitu sulit sekali permintaannya ini, gumamku dalam hati. Dan bagaimana mungkin dia minta tolong ke saya dalam hal sepenting ini? Pertanyaan yang seakan tanpa jawaban ini terulang lagi di benak saya. Dan satu pertanyaan lagi yang amat menggelitik hati saya adalah, bagaimana mungkin saya bisa mecarikan jodoh bagi orang lain sedangkan saya sendiri pun belum mendapatkannya untuk diri saya sendiri? Hahaha…=)) Sungguh ter-la-lu… Ckckckck…

Mungkin yang membuat saya agak kesulitan adalah dengan ketentuan jodoh yang diharapkan oleh teman saya ini. Dia berkata begini, “saya menginginkan seorang ikhwan yang sholeh, selainnya tidak menjadi kendala, dan saya yakin kamu tau bagaimana maksud saya”. Ya, saya memang sangat mengerti apa yang dia mau. Karena yang dia mau itu juga yang dimau oleh mayoritas perempuan. Ikhwan yang sholeh, keimanannya kuat, dan akhlaknya baik. Dan inilah letak permasalahannya, dimana saya harus mencari yang seperti ini.

Fyuhh… Mengapa saya harus merasa sulit? Tidak seharusnya saya berpikir berulang kali untuk memberikan pertolongan. Rasanya sudah menjadi kewajiban bagi orang yang dimintai tolong untuk memberikan pertolongan kepada orang yang meminta tolong. Dengan catatan : memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan si penolong. Ya, inilah yang harus dilakukan. Bukankah begitu sobat?

Tidak harus menunggu waktu berlalu, kala itu juga saya mencoba menghubungi beberapa teman, dan mencoba bertanya kepada mereka. Dan lucu sekali, seakan teman-teman saya itu tidak percaya dengan apa yang saya katakan. Mungkin dalam benak mereka berkata begini, “sejak kapan kamu jadi tukang cari jodoh ndri?” wkwkwkwk… Saya pun tidak berhasil untuk menahan tawa bila memikirkan ini. Dan walaupun sekarang usaha saya ini belum membuahkan hasil, tapi saya rasa saya tidak sepenuhnya telah gagal. Yang penting kan ikhtiar semaksimal mungkin. Soal dapat atau nggak nya kan itu sepenuhnya menjadi ketentuan Allah. Ya ga?
-duile udah kayak yang ahli aja ya ngmongnya, :D-. Hmm… Sementara udah dulu deh pencariannya, saya udah ngantuk -takutnya malah semakin ngaco :P-. Besok baru deh dilanjutin lagi.

*bagi yang berminat untuk dan atau ingin menolong saya, silahkan tinggalkan jejaknya di bawah sini. Dan dengan sangat, saya mohon sekiranya sobat semua mau dan berkenan membantu saya, hehe… ^0^.  Jazakumullah…

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Eh… Award lagi nih :)

Ga nyangka nih dapet awardnya berturut-turut. Duh kok bisa ya sobat-sobat pada baik hati ngasih saya award? Padahal seperti yang saya bilang sebelumnya, saya merasa belum pantas untuk mendapatkan award-award beginian. Soalnya blognya masih sangat sangat sangat sederhana. Ibaratnya rumah tu tipenya RSSSS, ckckckck…

Tapi ga enak juga kalo udah susah-susah dikasih tapi ga diambil-ambil. Kan ga sopan bgt tuh. Ok deh langsung aja, award kali ini saya dapatkan dari seorang sobat blogger, M. Yusuf Ardi. Ini dia awardnya… Thaarrraaaaaaaa….
             
                   

Kata yang ngasih saya award ini, untuk nyebarin ato meneruskan award ini kepada sobat-sobat blogger yg lain, ada peraturannya. Ini dia : 

1. Buatlah posting yang memuatkan gambar award ini di blog kamu

2. Sebutkan siapa yang memberikan award ini beserta link blognya

3. Beri award ini kepada 5 sahabat kamu

4. Kunjungi blognya dan beritahu ada award dari kamu untuknya

5. Lakukan hal yang sama seperti yang memberikan award ini ke kamu.

Nah, selanjutnya saya akan memberikan award ini ke 5 orang sobat blogger, yaitu :
* Sobat Ria Adria
* Sobat Hapia Mesir
* Sobat Ferdi
* Sobat Irien
* Sobat Negeri Hijau

Semoga awardnya bermanfaat dan bisa semakin menambah semangat para blogger sekalin :)

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Kamis, 18 Juni 2009

Eng Ing Eng… Award :)

Duh, seneng banget nih pagi-pagi buka blog, e malah dapat award dari neng geulis Ria_Adria. Ini dia awardnya… Jengg jengg jengg… Eh ntar dulu. Sebelum diliat awardnya, saya mo kasih juga award ini kepada 10 sobat blogger : 

* Sobat Aditya_febrianto
* Sobat M. Alfiansyah
* Sobat Bayi Ngeblog
* Sobat Hadist Shahih
* Sobat Tips Bisnis Akhirat
* Sobat Putri Setiani
* Sobat Roizz
* Sobat Bippi
* Sobat Aldi
* Sobat Rachmat

Show time… Jengg jengg jengg… Ni dia awardnya :).

 

Buat sobat-sobat yang udah pernah dapet awardnya ya gak papa dapet lagi biar makin erat persahabatan diantara kita. cara bagi-bagi awardnya gini :

- membuat postingan yang memuat gambar award ini di blog sobat
- sebutkan yang memberikan award ini beserta link blognya
- hadiahkan award ini kepada 10 sahabat
- kunjungi blognya dan beritahukan kalau ada award dari sobat untuknya
- sampaikan kepada sobat yang lain untuk melakukan hal-hal tersebut tadi...

Oya, sebelum ini sebenernya udah ada beberapa sobat sih yang ngasih award, tapi maaf beribu maaf sob, saya belum sempet-sempet untuk pajang awardnya disini. Dan saya ngerasa belum pantes aja nerima award-award dari sobat semua karena blog saya bener-bener sederhana. Tapi, terimakasih yang sebesar-besarnya kepada sobat semua yang telah memberikan award pada blog saya. Semoga makin jaya dan sukses selalu untuk semua sobat blogger dimanapun berada. Semangatttt…!!!

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Nikmat Sujud

Bismillah.

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang ini, tapi karena sesuatu dan lain hal, maka baru sekarang bisa terealisasi. Dan alhamdulillah sampai saat ini saya masih bisa menulis sehingga bisa menuangkan apa yang ada dan singgah di benak saya
-untuk dijadikan sebuah tulisan-.

Benar kata peribahasa. Terkadang kita baru menyadari pentingnya arti sesuatu hal ketika ia benar-benar telah tiada
-habis termakan waktu, rusak, hilang begitu saja atau karena alasan lain-. Walaupun hal itu awalnya kita anggap sepele, tapi tetap saja -diakui ataupun tidak- kita merasa ada yang kurang tanpa kehadirannya.

Sempat dalam waktu yang cukup lama, saya tidak bisa melakukan sujud. Karena ada suatu kesakitan di kepala saya bila saya merunduk apalagi sampai bersujud. Kesakitan yang luar biasa, hingga bila saya tetap memaksakan diri untuk bersujud dalam sholat, maka saya akan jatuh tersungkur dan tak kuasa untuk bangkit lagi. Dan semuanya menjadi gelap, asing dan berpusing. Sungguh keadaan yang sangat mengganggu bagi saya. Bagaimana tidak? Saya tidak bisa bersujud jadi artinya saya juga tidak bisa sholat seperti orang-orang pada umumnya. Saya harus sholat dalam keadaan berbaring. Padahal tubuh saya masih mampu berdiri, tapi kepala saya tidak mengijinkan saya untuk bersujud. Andaikan saja keadaan ini bisa digantikan dengan suatu hal yang lain. Ku rindu sujudku
-lirihku berulang kali-

Padahal saya pernah membaca sebuah artikel tentang pentingnya sujud dalam sholat. Disebutkan disitu bahwa peredaran darah hanya akan sampai ke otak bila seseorang dalam keadaan sujud. Begitu indahnya Allah menciptakan setiap gerakan dalam sholat itu. Apa yang akan terjadi dengan otak saya bila saya tidak bisa melakukan sujud? Bagaimana ini? Saya selalu meminta agar keadaan ini secepatnya berlalu.

Sebuah pelajaran yang mungkin bisa kita ambil dari kejadian ini, adalah berusaha mensyukuri apapun yang telah kita punya sekarang ini. Tidak menilai rendah pada apapun, atau bahkan meremehkan sesuatu hal sekecil apapun. Karena bila ia telah pergi dari kita, maka hanya kehilangan dan penyesalan yang kita dapati, karena kita telah menyiakan. Apapun itu.

Dan sekarang, belum terlambat untuk mensyukuri, menjaga, merawat, dan menyayangi apa yang ada pada diri kita dan di sekeliling kita. Jangan pikirkan apa yang telah pergi
-walaupun ini sulit- karena ia tak akan kembali. Syukuri apa yang masih kita miliki sekarang dan apa yang akan kita dapat di masa datang, karena memang itulah yang terbaik untuk kita menurut pilihan Allah. Bukankah ini akan menjadi lebih baik bagi diri kita dan sekeliling kita?


Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Sabtu, 13 Juni 2009

Belajar Ikhlas Bareng Yuk!


Pertama-tama saya ingin sedikit bertanya pada teman-teman semuanya. Ikhlas? Ikhlas apaan sih? -apa sejenis makanan? wkwkwk...-. Mungkin banyak sekali persepsi dan pendapat berbeda mengenai definisi ikhlas tersebut di atas. Hmm... Baiklah. Disini saya tidak ingin memperdebatkan tentang perbedaan pendapat -karena bagi saya, berbeda pendapat itu adalah suatu hal yang wajar-. Tapi saya ingin mengajak teman-teman semua untuk sama-sama belajar tentang yang namanya ikhlas -karena saya sendiri masih harus belajar banyak dari sobat sekalian, hehe-.

Are you ready to start learn with me? Good… :)

Ok, sudah saatnya untuk serius. Pernah saya bertanya pada diri saya sendiri, sebenarnya ikhlas itu bagaimana sih? Mengapa sangat sulit sekali rasanya untuk mengaplikasikannya di dalam seluruh aspek kehidupan ini? Apakah tiap kali lisan kita berlafal “ikhlas”, hati kita juga meng-iya-kan lisan kita? Banyak sekali pertanyaan yang saya lontarkan berkaitan dengan ikhlas ini. Mungkin langkah pertama yang harus kita ambil adalah, berusahalah jujur terlebih dahulu pada diri sendiri -inilah yang terus saya coba terapkan pada diri saya sendiri-.

Tentunya sobat semua sudah mengetahui hal ini. Keikhlasan itu akan dipertanyakan manakala kita dihadapkan dengan keadaan yang bertolak belakang dengan harapan kita. Misalnya kemiskinan, kesakitan, kenistaan, kejelekan, kemalangan, penolakan, kehilangan, dsb. Keadaan dimana sebenarnya sangat tidak kita harapkan hal itu terjadi. Bahkan kalau memungkinkan, kita sangat ingin untuk menolaknya. Hingga ada peribahasa begini, “andai saja waktu bisa diputar balik kembali”. Peribahasa itu ada benarnya juga. Memang, bila waktu bisa diputar balik kembali, tentu kita akan menghindari hal “jelek-jelek” dalam perjalanan hidup kita ini, dan hanya mengambil yang baik-baiknya saja. Dan memang itulah hakikat hidup manusia, cenderung menginginkan segala yang baik-baik saja. Dan kalau bisa, mungkin setiap manusia ingin bisa mengatur sendiri seluruh kehidupannya, jadi ia bisa terlepas dari segala hal yang jelek
-hayo ngaku… bener kan?:P-. Namun malang, tidak akan pernah ada manusia yang mampu menciptakan kehidupan sesuai yang ia inginkan, bahkan fir’aun sekali pun. Karena setiap apapun di dunia ini telah memiliki jalannya masing-masing dan telah ditentukan -oleh Allah azza wajala- jauh sebelum dunia ini tercipta.

Dan saya yakin, ketika kita dihadapkan pada keadaan yang sesuai dengan keinginan kita, maka keikhlasan ini tak perlu dipertanyakan lagi, sudah barang tentu semua orang akan ikhlas menerima segala hal yang sudah menjadi impian dan angan-angannya. Misalnya kemewahan, kecantikan, ketampanan, kekayaan, kesehatan, keberuntungan, dsb. Adakah diantara kita yang akan menolak semua ini? Semua pasti tau jawabannya.

Pernahkah sobat merasa kehilangan hal atau sesuatu yang sangat amat berharga bagi sobat sekalian? Kehilangan yang tidak akan pernah kembali lagi. Apapun kehilangan itu, pasti akan meninggalkan suatu perasaan perih dan membekas di hati masing-masing. Bahkan ada yang tak bisa hilang bekasnya untuk selamanya. Benarkah? Dan apakah sobat semua sudah berhasil untuk mengikhlaskan kehilangan itu?

Dalam terpekur, kadang saya bisa hanyut dalam keadaan yang sangat aneh. Tiba-tiba saja saya ingat dengan almarhum ayah saya yang begitu dekat dengan saya dan yang sangat saya sayangi. Ketika keadaan itu mulai merasuki hati saya dan membuat saya merasa sangat sedih, saya mencoba untuk melawannya. Saya katakana pada diri saya. Saya ikhlas! Ya. Saya sudah ikhlas menerima kehilangan ini Ya Rabb. Begitu pula bila saya teringat kembali kepada kehilangan-kehilangan yang lainnya. Saya pun melakukan hal yang sama, sebelum saya dikalahkan oleh perasaan sedih itu yang dapat membuat saya lemah dan menitikkan air mata. Namun apa yang terjadi? Seketika itu pula ada perasaan halus yang menyusup ke dalam hati dan membuat hati saya terasa amat perih. Ya Allah, mengapa begini? Apakah ini bisa dikatakan ikhlas? Atau…? Astaghfirullahalazhim…

“Ukhty… Ikhlas itu adalah sebuah akhir dari proses. Keputusan yang tulus untuk sebuah kebaikan. Ikhlas akan bernilai ibadah jika karena Allah. Ikhlas bukan berarti melupakan kenangan ataupun kehilangan itu, tapi ikhlas merupakan penerimaan”. Begitulah perkataan salah seorang ahkwat sahabat baik saya. Begitu dalam makna perkataannya. Dan sangat mencerahkan.

Bagaimana dengan sobat sekalian? Sekiranya sobat berkenan untuk membagi ilmu yang bisa membuat kita saling belajar dan menambah wawasan kita, silahkan ikat ilmu itu dengan menuliskannya dan meninggalkannya di sini (coment box). Karena, ilmu yang bermanfaat itu termasuk salah satu amal sholeh yang tidak akan putus pahalanya sampai ke akhirat pun kelak. Semoga Allah membalas kebaikan sobat sekalian. Amin…


Baca selengkapnya, klik ajah disini ..

Kamis, 11 Juni 2009

Berbicara Dengan Nurani

Suatu pengalaman bagi saya ketika surfing internet, saat itu saya mampir di komunitas Yahoo! Answer. Rame sekali rupanya keadaan disitu. Ada yang melempar pertanyaan dan beberapa detik kemudian langsung ada yang menjawab pertanyaan tersebut baik dengan serius atau hanya iseng untuk nambah point saja. Hehehe… -saya pun juga gitu kalo lagi kumat isengnya :P-

Saya tersenyum sendiri melihat beberapa pertanyaan terbaru yang diluncurkan oleh beberapa kawan di room global, disitu semua orang bebas mengeluarkan apapun yang menjadi unek-unek mereka, tanpa malu-malu. Bebas bertanya apapun, dan yang lain pun akan menjawab sesuai ketahuan mereka tanpa menganggap orang yang bertanya itu lebih bodoh dari yang menjawab. Inilah yang membuat saya terkadang asyik mengikuti aktivitas mereka, karena tidak terdapat kesenjangan sosial dan lain sebagainya. Semuanya ingin berbagi ilmu. Ya. Kata-kata yang paling tepat adalah berbagi dan mencari ilmu.

Tapi saya agak terkejut ketika ingin ikut menjawab sebuah pertanyaan. Saya tidak memperhatikan bahwa kategori pertanyaan itu datang dari room agama dan kepercayaan, karena sang penanya hanya menulis subjek pertanyaannya dengan kalimat ini, ”adakah yang tau mengapa begini?”. Saya semakin penasaran, dan ketika saya klik pertanyaan itu, saya dapati si penanya mendeskripsikan secara singkat maksud dari pertanyaannya. Ternyata dia bertanya tentang, ”mengapa di room agama dan kepercayaan banyak sekali si penanya ataupun si penjawab melontarkan pertanyaan dan jawabannya dengan menggunakan huruf besar?” Ketika itu saya belum terlalu mengerti dengan maksud pertanyaannya. Sempat juga terlintas di benak saya, ”mungkin saja mereka sedang iseng, memangnya berdosa bila menulis dengan huruf besar semua?” hehehe...

Kemudian saya melakukan survey lebih jauh ke dalam room agama dan kepercayaan tadi. Dan ternyata…. Eng ing eng… Benar! Banyak sekali pertanyaan dan jawaban ditulis dengan menggunakan huruf besar dan kata-kata yang sangat amat tidak sopan atau bahkan melecehkan tentang agama dan kepercayaan itu. Sekarang saya baru benar-benar paham dengan pertanyaan di atas tadi. Ternyata itu merupakan pertanyaan yang berisi sindiran secara halus alias sinisme
-duh indri... lemot bgt sih :( telat bgt pahamnya :D-

Sekarang kita kembali kepada pertanyaan tadi. Menurut teman-teman semua, apa pernyataan yang sesuai untuk menjawab pertanyaan tadi? Kalo saya pribadi hanya menjawabnya dengan simple. Yaitu karena orang-orang tersebut diatas berbicara tidak dengan hati nurani, dan telah dikuasai oleh hawa nafsu. Padahal semestinya kita lah yang harus mampu mengendalikan hawa nafsu, bukan malah sebaliknya
-hawa nafsu yang mengendalikan kita-. Dan yang bisa mengendalikan hawa nafsu hanyalah keimanan seseorang. Memang sangat sulit sekali bila berbicara tentang pengendalian ini. Semakin tinggi tingkatan keimanan seseorang, maka akan semakin kuat dia menahan arus keras hawa nafsu yang berusaha membelokkan keimanannya. Lalu bagaimana dengan kita sekarang? Mari kita coba tanyakan kembali pada diri kita.

Setiap orang pasti memiliki sisi baik yang mendorong dirinya untuk berbuat kebajikan. Dan begitu juga sebaliknya. Ketika akal sehat telah mampu mengendalikan nafsu, maka ia akan cenderung berbuat kebaikan, namun bila nafsu yang telah memperbudak akal sehat, maka ia akan cenderung berbuat kemunkaran bahkan akan terus mengulanginya. Tampak dari ini semua, betapa pentingnya pengendalian diri itu.

Tentang perdebatan antar umat beragama mungkin telah menjadi persoalan yang umum dan sering terjadi. Sejauh yang saya lihat disitu hanyalah “perang dingin” (saling mencaci dan memperolok), mudah-mudahan saja tidak sampe “berdarah-darah”, hehehe… Tapi sebenarnya mengapa harus saling mengejek? Bukankah “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”?

Nah sobat, menurut kalian gimana? Kalo ada pendapat lain, tolong dituliskan dibawah ya. Jazakumullahu khoiron…

Baca selengkapnya, klik ajah disini ..